Pendiri Gerakan Ini Adalah Muhammad Ilyas bin Al-Maulawi Ismail. Lahir Pada Tahun 1303 Hijriyyah. Dan Meninggal Pada Tahun 1363 Hijriyyah. Muhammad Ilyas Memulai Kiprahnya Dengan Mengajar Di Madrasah ” Madhohir Al-Ulum ”. Kemudian Dia Merasa Tidak Memperoleh Manfaat Yang Berarti Dari Kegiatan Dakwah Dengan Cara Mengajar Ini.

Lalu Muhammad Ilyas Mulai Tertarik Pada Teori Tarbiyyah Dengan Methodologi Kaum Sufi, Para Pengikut Toriqoh. Setelah beberapa lama, lagi-lagi Muhammad Ilyas merasa tidak mendapat perkembangan signifikan. Dia Berkata ” Methodologi Dakwah Seperti ini terlalu melelahkan dan tidak menampakkan manfaat apapun dan bisa menjerumuskan orang-orang awam untuk hanya tertarik pada kegiatan berdoa, azimat-azimat kesaktian dan haekal-haekal yang di gunakan untuk memenuhi kesenangan duniawi belaka ”.

Rupanya Muhammad Ilyas Tidak Menyukai Praktek-Praktek Toriqoh Yang Di Manipulasi untuk Melancarkan Usaha Dagang, Pertanian, Pengobatan Penyakit dan Lain Sebagainya.
Ketidakpuasan ini Mendorong Muhammad Ilyas Untuk Menciptakan Toriqoh Dan Tasawuf Baru, Sesuai Dengan Model Yang Dia Inginkan. Dan Toriqoh bikinan itu disebutnya dengan TORIQOH TABLIGH, demikian ini seperti yang diceritakan jamal muhammad, seorang karib pimpinan perguruan tinggi Qoid Malammata. Cerita ini Tersebar luas di sekolah-sekolah.

Seorang Amir Al-jama’ah At-tablighiyyah wilayah ibu kota New Delhi dan sekaligus Teman dekat pendiri gerakan ini, yaitu Muhammad Idris Al-Ansori, dalam tulisannya yang diberi Judul ” Tablghii Dustuur Al-Amaal ” Menjelaskan sebagai berikut ” Setelah melakukan penelitian dan perenungan yang mendalam, sesungguhnya kemenangan umat islam ini tidak akan tercapai kecuali dengan empat dasar yang bisa di paham dari firman Alloh ” Wa Antum Al-A’launa In Kuntum Mu’minin ” (kalian semua mempunyai kedudukan yang tinggi apabila kalian mau beriman) ”.

Empat Dasar itu adalah :

1. Tujuan asli ajaran islam adalah mengganti atau menghapus sistem yang keliru sampai pada akar-akarnya (menyeluruh).

2. Penggantian sistem yang batil dengan ajaran islam tersebut tidak akan berhasil kecuali dengan metode yang di pilih oleh para nabi pada zamannya masing-masing.

3. Apa yang telah dilakukan oleh umat islam, baik gerakan kolektif maupun perorangan, sampai saat ini tidak akan bisa sampai pada tujuan. Dakwah merekapun sama sekali tidak sesuai dengan metode dakwah yang diajarkan oleh para nabi.

4. Sangat mendesak sekali untuk didirikan ” Jama’ah Islamiyyah ” yang sesuai dengan hakikat ajaran islam, dan melakukan gerakan sesuai dengan metose dakwah islam.
Untuk tujuan terakhir ini, kemudian muncullah seorang tokoh pergerakan islam yang telah siap mengibarkan bendera islam, setelah melakukan penelitian yang mendalam yaitu salah satu hamba Alloh yang sholih, Muhammad Ilyas yang selalu bertawakkal kepada Alloh. Kemudian dia pun bergegas memulai gerakannya dengan mengumpulkan pendukung-pendukung setianya yang tertarik dengan ide-ide dasar islam dan berdirilah Al-jama’ah At-tablighiyyah ” (baca tablighii dustuur al-amaal hal : 2-3)

Coba anda Renungkan !! apa yang tersirat pada muqoddimah risalah tersebut, dimana mereka dengan jelas memberikan pengakuan : ” apa-apa yang telah dilakukan oleh umat muhammad ini – baik gerakan kolektif maupun perorangan – tidaklah sesuai dengan metode dakwah para nabi dan juga belum bisa melenyapkan sistem yang batil. sehingga sangat mendesak untuk mendirikan perkumpulan baru yang lurus ”.

Ini adalah pengakuan salah satu pendukung gerakan Al-jama’ah At-tablighiyyah dan jelas-jelas pernyataan ini bisa memecah belah umat Dengan membikin metode dakwah yang sama sekali terasa asing di tengah-tengah masyarakat dan terasa menyimpang dari manhaj dan tradisi ahlus sunnah wal jama’ah.

Barang kali semuanya sudah mafhum dengan pernyataan diatas, bahwa menurut mereka ” segenap umat ini terjerumus dalam kesesatan dan menyimpang dari petunjuk nabi ” dan merekapun menciptakan metode-metode dan doktrin-doktrin dakwah dengan berdasarkan pendapatnya sendiri.

Lantas apa bedanya dengan Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdi (pendiri gerakan wahabi)? Coba saja tengok ketika muhammad bin abdul wahhab ini memulai pergerakannya dengan mengajak umat islam pada pemurnian ajaran tauhid dan menjauhi syirik. Dalam Dkwahnya, dia menyatakan ” bahwa umat islam tersesat mulai tahun 600 hijriyyah karena mereka telah melakukan tawassul, meminta syafa’at dan istighotsah melalui perantara para nabi dan wali. Dan orang-orang yang bertawassul ini tergolong orang yang musyrik ”.

Bahkan muhammad bin abdul wahhab ini menghalalkan darah dan harta mereka. Dia menyerukan pada para pengikutnya untuk memerangi orang-orang yang tidak sepaham dengan pemikirannya. Demikian sejarah telah mencatat pertumpahan darah antara sesama kaum muslimin akibat radikalisme sebuah aliran yang tidak terkendalikan.

Beberapa saat kemudian, tidak kalah serunya ketika sejarsh kembali mencatat sejarah kelam dengan munculnya pergerakan yang di pelopori oleh al-maududi, dimana dia mengatakan ” seandainya aku tetap berpegang teguh belenggu keislaman, niscaya akan terjerumus pada kesesatan dan berpegang pada atheisme yang sebenarnya “.

Apa tidak konyol orang seperti Al-maududi ini? Agama yang diwarisi dari para leluhurnya dianggapnya identik dengan kesesatan dan atheisme. Dengan dasar pemikiran ini (menginginkan pembaharuan), maka dia membuat metode baru tentang pemahaman ajaran agama. Dan mengulangi membaca syahadat sebagai bukti baru memasuki agama islam dengan pemahaman secara benar. Dan lebih lucu lagi, Al-maududi memproklamirkan sebagai orang yang pertama kali masuk islam pada zaman itu.

Demikian pula muhammad ilyas, dalam beberapa kali pernyataannya mengatakan ” bahwa apa yang telah dikerjakan umat islam pada masa lalu tidaklah sesuai dengan apa yang diajarkan para nabi “. Pernyataan ini seperti dikutip muhammad mandhur nu’mani bahkan dalm kesempatan lain muhammad ilyas mengatakan umat muhammad ini mendapat cobaan, sehingga ibadahnya hanya sekedar formalitas saja. Bahkan pesantren-pesantren pun juga hanya tinggal bekas-bekasnya saja.

Muhammad Hasan Khan, seorang muballigh dan pengikut setia muhammad ilyas, di dalam muqoddimah ” Miftah At-tabligh ” mengatakan ” di tengah zaman kemerosotan umat ini, di dengung-dengungkan kebebasan beragama, sehingga mereka melampaui batas dengan tanpa terasa melakukan kekufuran dan pengingkaran. Terus menerus menghantam bagaikan gelombang laut yang datang silih berganti. Di saat itulah Alloh mengutus muhammad bin ilyas sebagai mukjizat dan merupakan peristiwa yang luar biasa. Agar dia menghidupkan kembali keterpurukan-keterpurukan umat islam dan membangkitkan roh islam “. Dengan sekuat tenaga, 40 tahun yang lalu muhammad ilyas telah mengibarkan panji-panji islam di markasnya ” (baca ; nidzomuddin, hal : 7).

Dari pernyataan-pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan : bahwa menurut mereka, muhammad ilyas adalah seorang tokoh kebangkitan yang membawa misi menghidupkan kembali ajaran agama secara benar, di tengah-tengah kemerosotan umat islam yang di landa kesesatan dan kekufuran. Pesantren-pesantren dan ibadah-ibadah yang mereka lakukan tak lebih dari sekedar formalitas belaka.

Kemudian timbul pertanyaan yang sangat mendasar dari kami, dimanakah bisa ditemukan islam yang benar? dan bagaimana bisa ditemukan islam yang benar, jika semua umat islam dikatakan sesat?
Nampaknya benar, benih-benih pemikiran muhammad ilyas ini perlu sekali dipertanyakan. Sebagaimana sering terlontar, dari mana sebenarnya sumber pemikiran muhammad ilyas itu?

Dari informasi diatas, maka dapat disimpulkan : bahwa menurut keyakinan mereka (dan aliran yang sejenis), umat islam ini berada dalam kesesatan dan menyimpang dari petunjuk nabi. Padahal keyakinan seperti ini bertentangan dengan hadis nabi yang diriwayatkan At-turmudzi dari ibnu umar R.A ” Sesungguhnya Alloh tidak akan mempersatukan umat ku dalam kesesatan “. Untuk itu, bagi yang berakal sehat, tentu tidak akan ragu akan kekeliruan mereka, apa lagi bagi mereka yang di anugerahi kelebihan.

Semoga Alloh senantiasa memberi rahmat dan hidayah-Nya, serta menetapkan iman dan islam kita sampai kita meninggal nanti, Amin.