27 Rajab adalah tanggal yang bersejarah bagi umat islam, karena pada tanggal tersebut terjadi peristiwa besar sepanjang sejarah peradaban umat manusia,peristiwa yang sangat luar biasa dan tidak dapat ditandingi oleh teknologi yang super canggih sekalipun, yaitu peristiwa isra’ dan mi’raj nabi muhammad SAW.

Peristiwa isra’ telah diabadikan oleh Allah dalam Alqur’an surat Al-isra’ ayat : 1. Maka wajib bagi kita untuk beriman pada kejadian isra’ dan mi’raj tersebut.

Isra’ artinya yaitu diperjalankannya Rosululloh pada suatu malam dari masjidil haram (makkah) sampai ke masjidil aqsha (palestina) menggunakan kendaraan surga yang bernama buraq dengan ditemani oleh malaikat jibril.

Sedangkan mi’raj artinya yaitu diperjalankannya Rosululloh dari masjidil aqsha sampai ke langit ke tujuh dengan menggunakan tangga yang terpaut diantara langit dan bumi, salah satu pijakannya terbuat dari emas dan yang lain terbuat dari perak. peristiwa ini hanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat, yaitu sekitar sepertiga malam.

Diwaktu isra’ mi’raj inilah, Alloh mewajibkan sholat lima waktu bagi Rosululloh dan umatnya. ketika Rosululloh diturunkan kembali, Rosululloh menyampaikan berita isra’ mi’raj pada penduduk makkah. tak ayal, sangat banyak orang yang mendustakan Rosululloh dan menganggap beliau sebagai pembohong.

Namun dengan tegas Abu bakar membenarkan berita isra’ mi’raj tersebut, dan karena inilah abu bakar mendapat gelar ” Asshiddiq ”.

Diantara tujuan dan hikmah isra’ mi’raj adalah untuk memuliakan Rosululloh dengan memperlihatkan keajaiban-keajaiban ciptaan Alloh,sesuai dengan firman Alloh dalam surat Al-isra’ : ” agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami ”.
Dan untuk mengagungkan beliau selaku nabi akhir zaman sekaligus sebaik-baik para nabi, serta sebagai penguat hati beliau dalam menghadapi tantangan dan cobaan dalam menjalankan tugas risalahnya, terlebih setelah ditinggal wafat pamannya (abu thalib) dan istrinya (khadijah).

Isra’ mi’raj bukan untuk menemui Alloh diatas, karena ” tempat ” adalah makhluk, sedangkan Alloh tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Alloh berfirman : ” Maka sesungguhnya Alloh itu maha kaya (tidak membutuhkan) dari alam semesta ” (QS. Ali imran : 97).

Alloh juga tidak bersifat dengan sesuatupun dari sifat-sifat makhluk seperti makan,minum,tidur,bertempat dan lain-lain. Alloh berfirman : ” tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya ” (QS. Asy-syura : 11)