Pada keterangan yang telah lewat,, telah kami jelaaskan mengenai akidah al-janjoehi, guru spiritual muhammad ilyas, pendiri gerakan ini. Setelah itu, mari kita lihat akidah muhammad ismail ad-dahlawi, yang menurut al-janjoehi, kitabnya yang berjudul taqwiyatul iman itu adalah berisikan ajaran murni islam dan sesuai dengan Al-Qur’an Dan Al-Hadits.

Mari kita cermati komentar-komentar ad-dahlawi berikut ini : ” Memanggail dengan nida’ ” ya muhammad “, dengan keyakinan bahwa beliau mengetahui dan melihatnyaadalah merupakan perbuatan syirik. Dan barang siapa memanggil seorang nabi atau wali dari jarak yang jauh, maka sungguh dia telah melakukan perbuatan syirik. Dan barang siapa melakukan ziarah kubur, maka diapun juga tergolong musyrik. Dan barang siapa menyalakan lampu, membersihkan kuburan dan bersedekah minuman kepada para peziarah, maka tergolong kafir “. (taqwiyatul iman hal : 8).

” Barang siapa pada waktu sholat membayangkan sedang berzina atau menyetubuhi istrinya, maka tidaklah berdosa dan barang siapa membayangkan mursyidnya atau bahkan Nabi SAW, Maka demikian itu dilarang, sebab hal itu lebih berbahaya dari pada membayangkan keledai atau sapi “. (hal : 91).

Komentar ini tidak lain adalah virus yang menyesatkan, betapa tidak? Karena tentu saja dia juga akan mengatakan bahwa menghadirkan Rosululloh dalam hati pada waktu tasyahud (ketika mengucapkan assalamu ‘alayka ayyuhan nabi), juga termasuk syirik. Padahal Hujjatul Islam Al-Ghozali mengatakan sebagai berikut : ” Hadirkan nabi dalam hatimu, kemudian ucapkan assalamu ‘alayka ayyuhan nabiyyu dan percayalah salam itu akan sampai kepada beliau dan beliau akan membalas salammu dengan lebih sempurna “. (Ihya’ hal : 169).

Selanjutnya, mari kami kenalkan pada sekelumit saja akidah-akidah at-tahaanawi, yang disanjung-sanjung oleh muhammad ilyas, dengan kata-kata ; ” Pengajaran itu memang jasa besarnya, sedangkan mengenai metodhe tabligh itu adalah karyaku “.

Antara lain At-Tahaanawi mengatakan : ” Saya akan menanyakan kepada orang yang berpendapat bahwa Rosululloh SAW itu bisa mengetahui hal-hal yang gaib, Apakah beliau bisa mengetahui keseluruhan atau sebagian saja? Kalau yang dimaksud bisa mengetahui keseluruhan, saya tidak bisa menerima dan kalau yang dimaksud hanya bisa mengetahui sebagian, maka saya katakan kepadanya : lantas apakah hal itu bisa dianggap sebagai keistimewaan? Bukankah si zaid, umar dan orang-orang gila juga bisa melakukannya? “. (hifdzul iman, hal : 7-8).

Subhanalloh, apakah seorang muslim boleh melakukan penyamaan seperti itu? Dan bagaimana mungkin baginda nabi yang mulia, penyebab wujudnya segenap semesta dan perantara yang agung diserupakan dengan orang-orang gila dan binatang dalam masalah pengetahuannya terhadap hal-hal gaib?

Kemudian amati pula komentarnya dalm kitab Huliyyul Jannah berikut ini : ” Meminta pemenuhan hajat dari orang-orang yang agung, meminta penjelasan tentang hari-hari keberuntungan dan nahas, mengikatkan uang yang di nadzari pada leher anak-anak kecil dan wirid-wirid dengan nama-nama kaum sholihin, semua ini adalah perbuatan syirik. Meskipun katanya hanya untukngalap berkah “.

Bukankah pendapat ini sama persis dengan paham aliran ibnu taimiyyah dan wahabi? Dan inilah yang diajarkan muhammad ilyas dengan metodhe dakwah yang dia ciptakan itu.

Untuk mengakhiri perkenalan kita dengan guru-guru muhammad ilyas, mari kita kenali sosok yang menjadi gurunya menjelang kiprahnya dalam pergerakan. Yaitu Ahmad As-saharnapoeri. Coba simak komentarnya seperti dikutip oleh Ali An-Nadawi berikut ini : ” Sungguh keluasan ilmu iblis dan malaikat pencabut nyawa itu benar-benar diterangkan pada nash-nash secara gamblang. Tidak seperti halnya keluasan ilmu Nabi yang sama sekali belum pernah ditemukan dalam nash-nash. Dan jika hal itu diyakini, maka tergolong syirik, dan bertolak belakang dengan nash-nash “. (al-baroohin al-qothi’ah hal : 51).

Coba saja renungkan, dia telah menetapkan tentang keluasan ilmu iblis dan malaikat izrail dan mengalahkan ilmu nabi SAW. Dan dia juga menegaskan bahwa penentangnya tergolong syirik dan mementang nash.

Dengan demikian jelas sudah idenditas al-janjoehi, at-tahaanawi, as-saharnapoeri dan ad-dahlawi yang mereka itu diakui sebagai guru-guru muhammad ilyas. Diantara kesalahan-kesalahan akidah mereka adalah :

A. Meyakini bahwa Rosululloh tidak mengetahui hal-hal yang gaib.
B. Memanggil Nabi dari jarak yang jauh, tergolong syirik.

Dua pemahaman akidah ini jelas-jelas bertentangan dengan dua pokok ajaran ahlus sunnah, yaitu :

A. Para Nabi dan para wali bisa juga mengetahui hal-hal yang gaib atas perkenan Alloh.
B. Orang-orang yang sudah meninggal dunia, masih bisa mendengar panggilan orang yang masih hidup.

Tak dapat dipungkiri lagi, bahwa mereka itu sebenrnya adalah para pendukung aliran wahabi, yang dipelopori oleh muhammad bin abdul wahhab itu.