Muhammad Idris didalam kitab Tablighi Dustur A-lAmaal Menjelaskan bahwa tujuan-tujuan dari gerakan Al-jama’ah At-tablighiyyah ini meliputi tiga hal :
1. Meninggikan kalimah Alloh.
2. Menyampaikan Islam dan mensyiarkannya.
3. Mersatukan orang-orang yang sama akidahnya, serta mengadakan perbaikan-perbaikan mengenai pemahaman madzhab, akhlak dan pendidikan (halaman 3).

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai akidah yang dijadikan pegangan gerakan ini, yang katanya bercita-cita ingin mempersatukan orang-orang yang satu akidah, marilah kita teliti pernyataan-pernyataan yang sering terlontar dari mulut mereka. Pada akhirnya kitapun tahu tentang semuanya dengan pemahaman yang sejelas-jelasnya.

Sedangkan kalimatullah, sholat dan pendidikan dari kegiatan-kegiatan yang biasa kami lakukan adalah laksana Alif, Ba’ dan Ta’ bagi pergerakan tersebut “. (Malfudhaat hal : 31).
Jelas sudah tujuan mereka sebenarnya yaitu : ingin mendidik masyarakat dengan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasululloh, menurut akidah yang dikehendakinnya.

Suatu ketika dia juga mengatakan kepada teman sejawatnya, Dhohir Al-hasan : ” Tujuanku tidak bisa dimengerti semua orang, masyarakat menduga pergerakan ini hanya sekedar mengajak orang mengerjakan sholat. Akupun bersumpah, Demi Alloh gerakan ini bukan hanya sekedar mengajak orang mengerjakan sholat “.

Ungkapan ini menunjukkan pada maksud sebenarnya dari gerakannya. Sesungguhnya gerakan ini tidak hanya sekedar mengajak masyarakat mengerjakan sholat seperti yang di gembar-gemborkan para pengikutnya, dimanapun mereka berada (pada saat ini). Namun mereka ingin menciptakan semacam toriqoh dan akidah yang digunakan propaganda untuk mengumpulkan manusia.

Pada halaman 66 disebutkan ; ” Menurut al-faqir (dhohir al-hasan), jama’ah tabligh ini telah mewadahi syarist, toriqoh dan hakikat dengan sangat sempurna “. Perkataan ini dengan sangat jelas mengakui tentang tujuan jama’ah tabligh – yang didirikan atas dasar mimpi – ini, yaitu mewujudkan gerakan yang bersayapkan syariat, toriqoh dan hakikat. Tiga dimensi ajaran agama ini semuanya akan diwujudkan dalam jama’ah tabligh. Sama halnya dia menginginkan agama baru, yang bisa mencakup semua dimensi dakwah islam. Yang lucu, semua ini terinspirasi oleh sebuah mimpi (wangsit).

Mari kita teliti lebih jauh mengenai akidah mereka. Muhammad idris anshori, teman seperjuangan pendiri gerakan ini, mengatakan : ” Akidah jama’ah tabligh ini adalah laa ilaaha illalloh, muhammad rasululloh “, yakni tidak ada tuhan selain Alloh dan Nabi muhammad utusan Alloh 9dustur halaman : 4).

Memang benar, semua orang di dunia ini juga mengakui bahwa akidah seperti ini adalah akidah islam. Akan tetapi akidah ini juga dipakai untuk merangkul aliran Al\Qodiyaani, Al-bahaai dan lain sebagainya, yaitu golongan-golongan yang keluar dari ajaran islam dengan berdasarkan kesepakatan para ulama terpandang dari kaum muslimin.

Ada satu pertanyaan yang harus mereka jawab : apakah dengan mengibarkan panji-panji tersebut, sudah memadai untuk mereformasi umat islam yang pada periode ini akan terpecah belah menjadi 73 golongan?? Dan hal itu sudah di isyaratkan oleh Nabi SAW. Dari masing-masing golongan inipun akan terpecah lagi menjadi firqoh-firqoh yang kecil yang tidak terhitung lagi jumlahnya.

Sementara itu, dengan seenaknya mereka menafsiri bagian kedua dari syahadatain. Yaitu hanya dengan mengetahui bahwa : suatu perintah atau larangan itu berasal dari nabi muhammad, bagi mereka sudah cukup untuk di taati (tanpa melalui interpretasi dari imam mujtahid). Baca halaman 5 dustur. Dengan demikian mereka itu menafikan ijma’ dan qiyas. Namun tidak berani dengan berterus terang memproklamirkan diri sebagai mujtahid mutlaq. Mereka menyembunyikan diri dan barang kali jika berterus terang, akan ditolak mentah-mentah oleh orang-orang yang tahu betul latar belakang sejarah dari pergerakan ini.

Anda akan lebih tersentak ketika mendengar doktrin ” persekutuan tanpa batas ” dalam keanggotaan jama’ah tabligh ini. Coba saja simak doktrin yang tercantum dalam kitab dustur al-amal berikut : ” Setiap orang yang telah mengikrarkan dua kalimah syahadat, dan mengakui maknanya sebagai akidah, kemudian setuju dengan pergerakan ini dan dengan penuh semangat ikut berhidmah kepada agama islam, maka dengan sendirinya termasuk anggota jama’ah ini. Meskipun berasal dari golongan mana saja dan berada di penjuru manapun. Untuk masuk kedalam jama’ah ini tidak ada syarat lainnya. (dustur hal : 5).

Dari ungkapan diatas dapat disimpulkan : ” gerakan ini menampung semua aliran yang mengaku islam, meskipun dari golongan al-qodiyaan, al-khowarij, al-qodariyah, al-mu’tazilah, al-wahhabiyah, al-maududiyah dan aliran-aliran sesat lainnya. Asalkan mereka telah mengakui kalimah tauhid dan berpegang pada keterangan dari Nabi SAW. Dan tidak berpaling pada keterangan lainnya, meskipun keterangan tersebut berasal dari ijma’ atau qiyasnya para imam madzhab empat. Sementara itu, mereka telah mengaku sudah mengumpulkan tiga dimensi islam : Syariat, toriqoh dan hakikat. Kesesatan apa lagi yang akan mereka lakukan?