Di era yang kian renta dan jauh bergulir dari zaman keemasan Rosululloh SAW ini, beruntun-runtun cobaan mendera umat ini. Fenomena tersebut dapat kita saksikan dengan banyaknya bermunculan firqoh (pecahan) islam. entah karena keyakinan ataukah minimnya pengetahuan akan ilmu agama, sehingga dengan mudah menerima aliran-aliran yang mengatasnamakan dirinya sebagai ahlus sunnah, tanpa mau menilik sejarahnya, menengok latar belakangnya, siapa pendirinya, siapa gurunya dan apa akidahnya.

Hal ini memang kemelut prahara yang semakin lama semakin berdarah dan tak kunjung usai, karena Rosululloh sendiri memang bersabda bahwa kelak umat islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Kiranya sudah saatnya kita membenahi diri dan membedah polemik yang berkepanjangan ini, sehingga tidak hanya mengendap, mengendap dan hanya mengapung di permukaan. dan kiranya, sudah saatnya pula kita untuk bersemangat dan tidak menjadi muslim yang cengeng, yang masih saja ” menyusu ” pada ibu khayalan, sehingga kita lebih waspada dan tangan-tangan kotor itu tak sedikitpun menjamah kesucian akidah kita.

Maulawi abu ahmad, seorang ulama sunni berkebangsaan india ini menulis risalahnya yang berjudul ” kasyfu asy-ayubhah ‘an al-jama’ah at-tablighiyyah ” , sebagai upaya membendung gerakan yang diyakini berakar dari gerakan wahabi. Ini membuktikan bahwa gerakan ini memang cukup meresahkan. Gerakan ini di pakistan dan india mulai menyedot perhatian ulama sunni dan menjadi polemik berkepanjangan pada sekitar dekade 70-an.

kemudian ulama-ulama negeri india, tepatnya di negara bagian keralla, bangkit menyingsingkan baju untuk menyelidiki gerakan yang berlabel ” al-jama’ah at-tablighiyyah ” dan juga di kenal dengan ” al-jama’ah al-ilyasiyyah ”. Di indonesia gerakan ini lebih populer dengan sebutan ” jaulah ”, berasal dari bahasa arab jawaalan yang bermakna berkeliling. karena ciri khas gerakan ini melakukan dakwah keliling keluar masuk kampung dengan memakai jubah dan sorban, mirip anggota FPI atau laskar jihad. hanya saja orang-orang jaulah ini tidak membawa pentung atau pedang.

Ada satu hal mendasar, yang menurut penulis risalah ini (maulawi abu ahmad) tidak bisa di tolelir lagi karena menyangkut akidah. Yaitu mengenai doktrin ” jama’ah tablighiyyah ” yang menolak untuk mengungkapkan masalah-masalah khilafiyyah meskipun misalnya berkaitan dengan akidah. Dijelaskan oleh penulis risalah ini, bahwa dalam gerakan jaulah tidak menolak untuk menampung semua aliran yang ada dalam islam. Baik itu aliran yang berfaham sunni atau bukan. Di jelaskan dalam doktrin mereka bahwa misi yang mereka emban adalah mempersatukan ummat. Oleh karena itu tidak di perbolehkan mengungkit-ungkit masalah khilafiyyah, apalagi yang berkaitan dengan akidah. Karena hal itu bisa mengobarkan api fitnah, sehingga dalam gerakan ini sudah tidak ada lagi sekat antara faham sunni dan selain sunni.

Selain itu, penulis risalah ini juga dengan bahasa yang fulgar, tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan kekonyolan Muhammad Ilyas, pendiri “ al- jama’ah at-tabblighiyyah” yang menafsiri ayat yang dijadikan inspirasi dalam gerakannya, dengan berdasarkan wangsit yang diterimanya lewat mimpi. sebuah metode penafsiran dengan bersandar “klenik”.

Dan masih banyak lagi sisi-sisi lain dari potret seorang Muhammad ilyas yang di ungkapkan dalam risalah ini. Nampaknya penulis risalah ini sangat berhati-hati sekali. Terbukti dari setiap pernyataannya selalu disertai informasi-informasi yang akurat sebelum ia mengambil kesimpulan dengan berdasarkan argumentasi-argumentasi yang tak terbantahkan.

Di kawasan timur negeri india terdapat beberapa kelompok yang memplokamirkan dirinya sebagai pembaharu agama dan sekaligus merasa mensyiarkan dan menghidupkan lagi tradisi kemurniannya. Sebagian masyarakat dengan sigap berbondong-bondong mengikuti gerakan ini. Mereka tidak mau meneliti dulu apa akidah para pendirinya.

Sayang sekali, para ulama panutan pun ikut tergesa-gesa menyokong gerakan ini. Dengan demikian para ulama ini pun sama halnya ikut berperan menyebarkan tipu daya dan rekayasa di tengah-tengah masyarakat luas.

Peristiwa ini sangat jelas sekali mewarnai perjalanan sejarah dan berlangsung cukup lama. Gerakan ini sebenarnya tak lebih dari sebuah rekayasa dari sekelompok orang yang terbujuk hawa nafsu dan terjerumus pada ide-ide pemikirannya yang menyesatkan. Mereka dengan berani sekali menyampaikan dalil-dalil syar’i berdasarkan pemikirannya sendiri dan mereka pun hampir sama dengan apa yang telah di cetuskan oleh muhammad bin abdul wahhab an-najdi (pendiri gerakan wahabi) dan ibnu taimiyah al-haroni (yang berpendapat diharamkannya ziarah kubur dan tawassul).

Sungguh bagi orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang dasar-dasar syari’at dan furu’-furu’ nya niscaya akan tertipu sehingga melihat metode, doktrin dan akidah mereka itu merupakan kebenaran dan jalan menuju keselamatan.
Perlu sekali untuk di ketahui bahwa salah satu di antara kelompok tersebut adalah ” al-harokah al-ilyasiyyah ” yang juga di sebut dengan ” al-jama’ah at-tablighiyyah “. Mereka ini kelihatan baik dalam tata cara dan perilaku sehari-hari, sangat menawan. sehinnga tidak mengherankan ketika orang-orang yang terkenal sholih dan kuat agamanya terpedaya oleh gerakan ini, tanpa mau meneliti dan berhati-hati pada akidah, metode dakwah dan doktrin mereka yang menyeleweng dari kebenaran.

Ketika benih-benih yang mereka tebarkan mulai tumbuh bersemi di sekitar kawasan keralla, para ulama yang tergabung dalam jamiyyah keagamaan keralla bergerak menyingsingkan baju untuk mengadakan penelitian tentang tulisan-tulisan mereka, riwayat hidup pendirinya, kehidupan sehari-harinya, dan metode dakwahnya.

Dari penyelidikan itu menghasilkan kesimpulan : ” bahwa akidah mereka itu merupakan akidah ahli bid’ah dan gerakan dakwah mereka juga penuh dengan tipu daya “. Berdasarkan kesimpulan ini, akhirnya para ulama keralla memutuskan dan merekomendasikan : ” bahwa al-jama’ah at-tablighiyyah adalah kelompok sesat, termasuk ahli bid’ah dan penyeleweng dari ajaran ahlus sunnah wal-jama’ah “. Dan fatwa ini sama dengan fatwa yang di sampaikan oleh ulama ahlus sunnah wal-jama’ah, baik dari kawasan utara negeri india maupun dari kawasan selatan.

Insya Alloh kami akan menguraikan sampai dimana kesesatan mereka dan metodologi dakwah mereka yang penuh kecurangan – dalam sebuah risalah ini – seraya memohon pertolongan kepada Alloh sang pencipta alam semesta, yang tak ada tuhan selain Dia dan tetap berpegang teguh pada jejak-jejak ulama Salaf Ash-sholihin.