Kita telah faham benar, bahwa gerakan ini dilatar belakangi oleh mimpi pendirinya, Muhammad Ilyas. Dan siapa saja boleh bergabung dalam gerakan ini asalkan sudah pernah mengikrarkan dua kalimah syahadat. Kendati demikian, ditilik dari pernyataan-pernyataannya, gerakan ini lebih mencerminkan pada aliran wahabi.

Coba saja perhatikan pernyataan muhammad ilyas dibawah ini : ” Menghadiri khataman Al-Qur’an dan wiridan-wiridan memang baik sekali dan telah menjadi tradisi para ulama besar. Namun apabila khawatir menyerupai pelaku bid’ah, lebih hatihati ya dihindari saja. Ketika mengucapkan ash-sholatu was-salamu alaik pun, juga sangat menghawatirkan, apabila disertai perasaan akan kehadiran Rosululloh atau seolah-olah dilihat oleh beliau atau dalam keadaan ingin menyerupai para pelaku bid’ah, maka demikian ini sama sekali tidak diperbolehkan. Namun jika disebabkan rindu dendam yang tak tertahankan, maka tidaklah haram. Meskipun sebenarnya bisa juga setan mengganggu dan merusak akidahnya. Oleh karena itu juga mengandung kekhawatiran yang besar ” (Makaatib hal : 90).

Mari kita renungkan ! Pernyataan Muhammad Ilyas yang berterus terang mengenai keterangan tidak diperbolehkan memanggil Nabi SAW denagn anggapan seolah-olah hadir dan melihat kita. Meskipun dalam keadaan dilanda rindu dendam kepada beliau. Padahal ketika dalam keadaan rindu dendam berarti tanpa disertai kesengajaan dan dikatakan pula menjadi penyebab rusaknya akidah dan harus dijauhi. Pernyataan muhammad ilyas ini persis seperti pernyataan-pernyataan kaum wahabi. Sebenarnya apa yang terlintas dalam hati mereka ketika mengucapkan assalamu ‘alayka ayyuhan nabi???

Bandingkan dengan pendapat Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali, dalam kitab Ihya’ Ulum Ad-Din berikut ini : ” Hadirkan Nabi dalam hatimu, sekaligus bayangkan pribadinya yang agung, kemudian ucapkan assalamu ‘alayka ayyuhan nabi. Dan percayalah salam mu itu akan sampai pada beliau dan pasti dibalasnya dengan salam yang lebih sempurna ” (Juz 1, hal : 129).

Kemudian bandingkan pula dengan komentar Muhammad Haqqi Al-Afandi dibawah ini : ” Pada tahapan pertama hendaknya orang yang membaca sholawat dan salam membayangkan dirinya disepan pintu hadlroh. Kemudian menyebut sholawat dan salam menggunakan shighot khitob, penuh takdzim dan tata krama, sambil mengharap syafa’at pertolongan dan bertawassul kepada Alloh dengan perantara beliau. Untuk itu sangat sesuai apabila menggunakan sighot : Assalamu ‘alayka ayyuhan nabiyyu warohmatullohi wabarokatuh “. (Khozinatul Asror hal : 167).

Al-aarif billah sayyid muhammad utsman al-mirghani mengatakan : ” Bayangkan seolah-olah engkau menghadap nabi, karena beliaupun melihat dan mendengar suaramu meskipun engkau berada ditempat yang sangat jauh, karena tidak ada sesuatu yang samar bagi beliau, baik dari dekat maupun jauh ” (Aqrob ath-thuruq ilaa al-haq hal : 14).

Keterangan-keterangan diatas sudah cukup kiranya untuk mempermalukan pendiri dan penggerak al-jama’ah at-tablighiyyah ini, dimana dia melarang anggotanya membayangkan kehadiran Nabi SAW (ketika membaca sholawat). Dan menurutnya Nabi tidak bisa melihat dan mendengar pada orang yang membaca sholawat kepada beliau. Perlu diketahui,pendapat seperti ini adalah pendapat aliran wahabi. Menurut mereka orang-orang yang sudah meninggal itu tidak bisa mendengar suara lagi. Dan Nabi Muhammad dianggap sama dengan orang-orang biasa lainnya.

Fatwa ibnu hajar al-haytami sangat mendukung keterangan-keterangan diatas. Beliau mengatakan : ” Jangan dikira nabi tidak bisa melihat dari segenap penjuru meskipun dalam waktu bersamaan. Sebab dzat nabi yang mulia itu bagaikan cermin yang bisa dipakai bercermin oleh siapapun dan bisa menampakkan semua kebaikan dan keburukan bagi orang yang melihatnya “. (Al-fatawi Al-kubro hal : 9 juz : II).

Sungguh mengherankan muhammad ilyas ini, Dia meragukan tentang kehadiran Nabi SAW. ketika dibacakan sholawat. Padahal ulama-ulama besar telah meyakininya. Karena roh-roh yang telah disucikan itu bagaikan malaikat. Para wali-walipun ketika sudah tidak terhalang oleh raga kasar, derajatnya akan bertambah-tambah. Dan mereka juga bisa mencampuri urusan orang-orang yang masih hidup, sebagaimana para malaikat.

Nampaknya tidak ada lagi oarang-orang yang mengingkari keterangan-keterangan diatas kecuali kaum wahabi yang sesat dan menyesatkan itu. Dan sayang sekali jejak mereka itu di-ikuti oleh para pengikut al-jama’ah at-tablighiyyah.

Baiklah, untuk memuaskan hati dan mempermalukan kelompok sesat itu, kami kutipkan petikan tulisan kitab Al-Hujjah Al-Balighoh : Syah Waliyullah Ad-dahlawi dari negara india bagian selatan mengatakan : ” Ketika keterkaitan dengan alam kasar itu telah lenyap, maka para wali itu laksana malaikat. Mereka itu sekarang telah kembali pada tabi’atnya sebagaimana para malaikat yang bisa memberikan ilham kepada manusia, demikian juga para wali yang sudah meninggal, mereka bisa mengerjakan apa-apa yang dikerjakan malaikat. Terkadang ada juga yang ikut berjuang menegakkan kalimat Alloh. Dan ada juga yang berbuat sesuatu kepada anak adam “. (juz 1 hal : 35).

Ad-dahlawi menyatakan dengan sangat jelas bahwa para wali itu saja mampu berbuat seperti malaikat yaitu ikut berperan dalam urusan-urusan duniawi, Apalagi baginda Nabi SAW yang menjadi asal dari segala wujud dan menjadi penyebab sampai pada hadlrotillah, dengan berdasarkan kesepakatan ulama.

Al-allamah Al-munawi, dalam kitab Ar-roudl An-nadlir mengatakan : ” Jiwa-jiwa yang disucikan, ketika sudah terbebas dari alam kasar, akan naik dan berjumpa perkumpulan mulia. Hijab-hijab itu lenyap dan semua bisa disaksikan, baik dengan mata kepalanya sendiri maupun melalui kabar dari para malaikat. Ini adalh rahasia yang hanya dicapai oleh orang-orang tertentu. Ketika jiwa-jiwa yang disucikan saja bisa seperti ini, apalagi beliau Nabi SAW, yang menjadi pemimpin para utusan dan pemberi syafa’at umat “.

Sayyid ahmad zaini dahlan, dalam kitab Taqrib Al-Ushul mengatakan demikian : ” Banyak sekali dari kalangan ahli makrifat memberikan penjelasan bahwa seorang wali itu setelah wafatnya, Rohnya masih bisa berhubungan dengan murid-muridnya. Mereka memperoleh nur dan fuyudl dengan sebab barokahnya ” . Hal itu seperti Disampaikan oleh Al-Quthb pembimbing sayyidi abdullah al-haddad. Beliau mengatakan : ” Para wali itu ketika sudah wafat, perhatiannya kepada keluarga itu lebih besar dari pada ketika masih hidup. Karena ketika masih hidup, mereka itu terbebani taklif. Dan setelah wafat, lepaslah seluruh beban. Berbeda dengan manusia yang masih hidup, mereka itu sekaligus memiliki khusushiyah dan basyariyah. Dua sifat ini saling melemahkan. Apalagi untuk zaman sekarang. Pada umumnya lebih menonjol sifat basyariyah dari pada khushushiyah. Sedangkan orang yang meninggal hanya mempunyai khushushiyah saja, tidak yang lainnya. Ketahuilah bahwasanya manusia pilihan itu ketika wafat, yang musnah hanya badannya saja. Sedangkan rohnya masih kita jumpai hidup dimakam-makam. Mereka masih mempunyai akal, ilmu dan kekuatan spiritual. Bahkan ketika sudah wafat, bashirohnya semakin tajam. (taqrib al-ushul hal : 58).

Apabila para wali saja keadaannya seperti itu, apalagi para Nabi. Sedangkan Rosululloh adalah yang terbaik diantara mereka. Dan sudah barang tentu hal itu tidak akan diingkari kecuali oleh orang-orang yang didalam hatinya terdapat benih-benih faham wahabi. Semoga Alloh menjaga kita dari semua fitnah ini, Amin.