Istilah sufisme (tashawuf) berasal dari bahasa arab ” ash-shofa’ ” yang bermakna jernih, sebagai simbol langkah mistikus yang menempuh jalan penyucian rohani. Rosululloh bersabda; ” kejernihan dunia telah sirna dan tinggallah kekeruhannya, maka hari ini, kematian adalah penghargaan bagi setiap muslim ” (HR. Daruquhtniy).

Adapun sufisme secara terminologis, tampaknya terlalu naif konstelasi kerohanian yang sangat samar sekaligus konkret ini untuk dibatasi dengan kosa kata. Sebab, sekalipun ia telah menjadi bagian dari epistomologi, namun ia tidaklah berupa gerak lahir dan bukan pengetahuan, melainkan pengalaman dan kebijakan. Acuan paling mendasar etimologis sufisme sebenarnya lebih berasal dari sikap mistikus yang secara total berusaha memadamkan hasrat duniawi yang kotor dari kehidupannya dan menenggelamkan seluruh himmahnya dalam samudera ukhrawi. Lantaran itulah, kaum mistikus cukup dikenal dengan nama ash-shufiy, yang bermakna orang yang jernih dan tidak perlu mencari analogi atau turunan akar kata untuk sebutan mereka.

Muhammad al-jurairy mengatakan : tashawuf berarti memasuki setiap akhlak yang mulia dan keluar dari setiap akhlak tercela. Al-junaid mengatakan : tashawuf adalah perang (‘inwah) tanpa kompromi, dan para sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka. Kaum sufi seperti bumi, segala kotoran dilemparkan kepadanya, namun tidak akan tumbuh (keluar) dari mereka selain kebaikan. kaum sufi bagaikan mendung yang memayungi segala yang ada, seperti hujan yang menetesi segalanya.

Sahl bin abdullah al-tustary mengatakan : sufi adalah seseorang yang memandang darah dan hartanya halal tumpah dengan gratis. Abu ya’kub al-mazabily mengatakan : tashawuf adalah keadaan dimana seluruh atribut kemanusiaan terhapus. Ibnu al-jalla’ mengatakan : kita tidak bisa mengenal mereka (para sufi) melalui pra-syarat ilmiah, namun kita tahu bahwa seseorang yang miskin, tidak memiliki sarana duniawi dan hanya bersama Alloh tanpa terikat pada suatu tempat tapi Alloh tidak menghalangi mereka untuk mengenali setiap tempat, maka disebut sufi.

Demikianlah sebagian mistikus mengilustrasikan konstelasi sufisme dan berbicara tentang arti tashawuf berdasarkan pengetahuan, pengalaman, kondisi rohani (hal) dan intuisi (dzauq) nya sendiri-sendiri. Maka dari itu, kita tidak perlu heran jika kita menemukan definisi tashawuf yang berbeda-beda dari para sufisme. Definisi tersebut tidak menjelaskan tashawuf yang sebenarnya, melainkan hanya sebatas petunjuk. Tashawuf tidak dapat difahami dengan persepsi atau filosofi apapun. Hanya kearifan hati yang sanggup memahami dimensinya karena membutuhkan pengalaman rohani yang tidak bergantung pada metode-metode indera ataupun pemikiran.

Namun pada dasarnya, tashawuf adalah sebuah manhaj (jalan) nurani yang dibangun diatas kebijakan-kebijakan yang hanya bisa dilewati bukan melalui teori-teori semata, melainkan melalui ilmu dan amal dengan melepaskan (takholli) baju kenistaan dan memakai (tahalli) jubah keagungan, sehingga Alloh hadir (tajalli) dalam setiap gerak-gerik dan perilakunya. Dan inilah manifestasi konkret dari ihsan dalam sabda Rosululloh : ” Ihsan adalah engkau menyembah Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu ”.

Pada masa awal islam, sufisme tidak dipandang sebagai dimensi batin (esoteris) dari ajaran islam yang berlangsung pada masa belakangan, melainkan ia dipandang sebagai islam itu sendiri. Bahkan dalam rangka meremehkan kebangkitan aspirasi manusia pasca fase pertama perkembangan islam, kalangan sufi mengatakan : ” pada awalnya, sufisme merupakan sebuah realitas tanpa nama, sedangkan sekarang ini, merupakan sebuah nama tanpa realitas ”.

Jika ditilik dari sejarahnya, kelahiran tashawuf menjadi sisi esoteris ajaran islam secara independen, lebih karena sugesti kondisi sosial pada kurun kedua dan setelahnya, dimana arah peradaban manusia nyaris menjadi materialistik dan gersang dari kesholihan spiritual. Dalam suatu masyarakat yang sering terancam oleh kekacauan karena fitnah-fitnah (dimulai dengan pembunuhan ustman) seperti itu, dan teritorial kekuasaan sedemikian luas dan heterogen, sementara undang-undang, peraturan dan ketertiban serta keamanan adalah nilai-nilai yang jelas fital, maka kesholihan pun banyak dinyatakan dalam ketaatan terhadap ketentuan hukum formal.

Kesholihan demikian – betapapun ia tidak bisa di abaikan – akan banyak berkaitan dengan tingkah laku lahiriyah manusia dan hanya secara parsian berurusan dengan hal-hal batiniyah. Dengan kata lain, orientasi fiqh dan syari’at lebih mengarah pada eksoterisme dan mengabaikan esoterisme lebih mendalam. Dengan demikian, lahirlah tashawuf yang mengisi ” zona kosong ” yang dicampakkan oleh kalangan fuqoha dan mutakallimin guna menyelamatkan mereka yang tenggelam dalam kemegahan duniawi.

Kelahiran tashawuf yang menjadi oposisi peradaban materialistis itu, tentu memberikan perhatian serius yang berorientasi pada persoalan batiniyah tanpa melupakan adab-adab formal syara’. Sebab tidak ada tashawuf tanpa fiqh, karena hukum-hukum dzahir tidak bisa dimengerti tanpa fiqh. Dan tidak ada fiqh tanpa tashawuf, sebab suatu amaliyah hanya berarti bila dengan kebenaran tawajjuh. Serta fiqh dan tashawuf tidak akan ada tanpa iman, sebab keduanya batal tanpa dibangun diatas keimanan.

Oleh karena itulah imam malik mengatakan : ” barang siapa menjalani tashawuf tanpa fiqh, maka dia telah zindiq. Dan barang siapa memegang fiqh tanpa tashawuf, maka dia telah fasiq. Dan barang siapa yang menyatukan keduanya, maka dia telah menemukan kebenaran ”.
Maka jelas kelahiran tashawuf adalah mengembalikan dimensi batin (ihsan) yang sempat hilang dari ranah keagamaaan masyarakat islam.