Untuk melengkapi Pengetahuan kita tentang sosok muhammad ilyas, mari kita lihat siapa saja yang telah mendidiknya, dan mempengaruhi pikirannya, sehingga mempunyai ide mendirikan gerakan jama’ah tablighiyyah ini.

Berikut ini pernyataan Abul Hasan Ali An-Nadawi : ” Sesungguhnya pendiri Al-jama’ah At-tablighiyyah ini, Muhammad Ilyas, dididk oleh gurunya Rashid Ahmad Al-Janjoehi. Dia telah dibaiat secara khusus dan diberikan perkenan oleh gurunya, tidak seperti biasanya, karena dilihatnya mempunyai kecerdasan luar biasa “. (diini da’awtu hal : 44).

Didalam Al-Malfudhaat, dia sendiri juga mengatakan : ” Guruku al-janjoehi adalah seorang Quthb pembimbing pada zamannya dan mujaddid bagi umatnya. Namun seorang mujaddid tidak harus menampakkan pembaharuannya. Cukup para murid-murid terpilihnya saja yang menampakkan diri seperti halnya para Al-khulafa’ Ar-rosyidin, yang menggantikan dan mencerminkan gerakan Rosululloh SAW. (halamn 123).

Abul hasan an-nadawi mengatakan : ” Setelah Al-janjoehi meninggal, muhammad ilyas berguru kepada Ahmad Al-Ambitawi As-Saharnapoeri dan Asyraaf Ali At-Tahanawi “. (diini da’awtu hal : 48-49).

Muhammad Ilyas dalam Al-Malfudhaat mengatakan : ” At-Tahanawi telah melakukan yang terbaik, sementara itu hatiku selalu berharap, pengajian dan metodhe tabligh ini aku persembahkan untuknya. Dan ternyata bisa tersebar luas “. (halaman : 57).

Dalam Al-Makaatib, dia mengatakan : ” Sudah semestinya memetik manfaat dari At-Tahanawi, dengan mencintainya dan mencintai murid-muridnya yang terpilih. Dan dengan membaca kitab-kitabnya seseorang akan mendapat ilmu dan dengan mengikuti murid-muridnya, akan bisa mengamalkannya “. (halaman : 138).

Dengan pernyataan-pernyataan diatas, sekarang kita tahu siapa guru-guru muhammad ilyas. Yaitu ahmad al-janjoehi dan asyraaf at-tahanawi dan orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Mari kita teliti siapa sebenarnya Rasyid ini, dengan melihat tulisan-tulisan dan pernyataan-pernyataannya. Sebab inilah Gembong yang dianggap oleh muhammad ilyas sebagai panutan dan sekaligus dinobatkan sebagai mujaddid dan Quthb pembimbing pada zamannya.

Dalam kitab A-Fatawi Ar-Rosyidiyyah, Rosyid Al-Janjoehi mengatakan : ” Orang-orang menuduh Muhammad Bin Abdul Wahhab adalah seorang yang berfaham wahabi. Padahal dia seorang laki-laki yang sholeh, pengamal hadits dan penentang bid’ah. Hanya saja dia itu orang keras “. (halaman : 237).

Pada halaman : 235, Rasyid mengatakan : ” Orang-orang mengatakan bahwa para pengikut muhammad bin abdul wahhab adalah orang-orang wahabi. Padahal akidah mereka itu baik dan mereka itu pengikut madzhab hanbali “.

Pernyataan rasyid diatas jelas-jelas memutar balikkan Fakta. Coba saja baca kembali sejarah gerakan mereka telah memporak-porandakan tatanan masyarakat Arab. Mereka telah berani menumpahkan darah terhadap saudara-saudara sesama kaum muslimin. Dan mereka juga telah keluar dari agama islam yang lemah lembut ini. Mereka bagaikan anak panah yang lepas dari busurnya, melesat tak terkendali.

Kesaksian Asy-Syami melengkapi catatan sejarah kelabu tersebut. Dia mengatakan : ” Sebagaimana peristiw atragis pada zaman sekarang ini, Para pengikut muhammad bin abdul wahhab keluar dari Najd, menguasai dua tanah haram dan mengaku menjadi pengikut madzhab hanbali. Padahal mereka itu hanya menganggap golongannya saja yang muslim, sedangkan para penentang fahamnya dianggap musyrik dan halal darahnya. Berapa banyak para pengikut ahlus sunnah dan para ulama yang menjadi korban kekejamannya, semoga Alloh menghancurkan mereka “. (syarh ad-dur al-mukhtar hal : 472 juz II).

Pada al-fatawi ar-rosyidiyyah, Rasyid mengomentari tentang muhammad ismail ad-dahlawi, seorang penyebar faham wahabi di india, sebagai berikut : ” Sesungguhnya Al-mawlawi muhammad ismail adalah seorang yang alim, bertaqwa, penentang bid’ah dan pengamal Al-Qur’an dan sunnah serta pembimbing ummat “. (hal : 41). Selain itu, dia juga mengatakan : ” Kitabnya yang berjudul Taqwiyatul Iman adalah kitab terbaik, terpercaya bisa menguatkan iman dan memuat ajaran-ajaran pokok Al-Qur’an dan Sunnah. Pelajarilah kitab-kitab tersebut, sesungguhnya kitab tersebut paling menolk bid’ah, syirik dan semua keterangannya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits “.(hal : 41).

Berhentilah sejenak, dan cermatilah komentar-komentar para ulama india,tentang kitab taqwiyatul iman yang sesat itu. Baiklah, mari kita mulai dengan komentar seorang mufti besar, yang menguasai madzhab empat, Al-Allamh Syihabuddin ahmad koya Asy-Syaliyati berikut ini : ” Kitab ini (taqwiyatul iman) adalah tulisan dari pemimpin gerakan wahabi india, merupakan kitab pegangan bagi firqoh-firqoh yang baru muncul di dewanda. Para ulama sunni baik dari sindhi, india, ajam, haromain dan arab mengecam keras kitab itu. Yang ditulis dalam kitab ini adalah kalimat Haq, akan tetapi dimanipulsi untuk kebatilan. Oleh karena itu jangan terperdaya “. ” Ad-Dahlawi adalah orang yang pertama kali condong pada aliran ibnu taimiyyah dan juga pada aliran wahabi di india. Kemudian diikuti oleh pendukung-pendukung yang sesat. Termasuk ciri-ciri mereka adalah berkeyakinan (ber-akidah) Bahwa Alloh sang pencipta itu mungkin saja berbuat bohong dan juga mungkin akan munculnya orang yang menyamai Nabi terakhir “. (daf’u syarr al-atsir hal : 4).

Kemudian ikuti pula penilaian seorang mufti besar madras (kota paling besar dikawasan india selatan), Al-Marhum Muhammad Tamim, Mengenai kitab taqwiyatul iman berikut ini : ” Maka tidak ragu lagi bahwa taqwiyatul iman itu lebih cocok diberi judul takwiyatul iman (Pembakar iman), sebab ad-dahlawi didalam kitabnya ini menyebutkan kekufuran, Kesesatan dan kelakar-kelakar konyol dan barang siapa mempercayai kebenarannya, maka dia telah keluar dari kawasan islam,menurut pandangan para ulama yang ahli keutamaan “. (fatawi muhammad tamimi).

Dapat ditarik kesimpulan, Bahwa rasyid ahmad al-janjoehi, guru spiritual pendiri gerakan ini, telah memuji-muji muhammad bin abdul wahhab dan muhammad ismail ad-dahlawi. Hal itu bertolak belakang dengan kecaman-kecaman keras yang dilontarkan oleh para ulama sunni.

Setelah ada titik terang seperti itu, mari kita teliti lebih mendalam mengenai akidah mereka. Untuk itu, coba simak komentar rasyid dalam kitab Al-Fatawi Ar-Rosyidiyyah berikut ini : ” Rosululloh SAW tidak bisa mengetahui hal-hal yang gaib dan tidak pernah memberikan pengakuan tentang itu. Dalam firman Alloh dan banyak sekali hadits diterangkan bahwa Rosululloh tidak bisa mengetahui hal-hal yang gaib. Barang siapa meyakini bahwa beliau bisa mengetahui hal-hal yang gaib, maka dia telah musyrik “. (hal : 93). ” Membayangkan para auliya’ (dalam istilah toriqoh disebut robithoh) dan muroqobah kepada mereka, dengan keyakinan mereka itu bisa mengetahui hal-hal yang gaib, tidaklah bisa dibenarkan dan dikuatirkan terjerumus dalm syirik “. (hal : 49). ” Memanggil dengan shighot ” Ya Rosulalloh ” dengan keyakinan beliau bisa mendengar dari jarak jauh, adalah kekufuran yang jelas. Karena dia telah menyerupai orang-orang kafir “. (hal : 66). ” Amalan dengan ucapan ” Ya syeikh abdul qodir al-jilani “, menurutku tidak diperbolehkan. Meskipun bukan syirik, namun menyerupainya “. (hal : 50). : Barang siapa mengucapkan kalimah tersebut dengan keyakinan bahwa beliau bisa mengetahui sendiri pada hal-hal yang gaib dan bisa berperan sendiri dalam menyelesaikan berbagai urusan, maka dia tergolong musyrik dan jika dia meyakini bahwa Alloh-lah yang memperlihatkan kepada beliau untuk berperan dalam menyelesaikan berbagai urusan, maka tidak tergolong musyrik, akan tetapi penggunaan ucapan-ucapan tersebut tidak bisa dibenarkan dan termasuk maksiat “. ” Termasuk perbuatan yang terlarang yaitu mengadakan majlis peringatan maulid Nabi. Meskipun dalam hal itu tidak terdapat larangan-larangan agama. Namun dalam zaman sekarang ini tetap tidak boleh dilakukan. Begitu juga dengan pesta perkawinan, ziarah ke makam auliya’, seperti tradisi yang berlaku, sebenarnya diperbolehkan untuk kurun-kurun awal, namun untuk kemudian tidak boleh dilakukan. Demikian juga halnya peringatan maulid nabi dan pesta perkawinan. (hal : 105).

Tak dapat disangkal lagi dari pernyataan-pernyataan diatas bahwa sebenarnya Al-Janjoehi tergolong penentang ajaran ahlus sunnah, dimana menurut faham sunni, para nabi dan para wali bisa mengetahui hal-hal yang gaib. Dan amalan yang berupa panggilan kepada roh-roh yang disucikanpun juga boleh dilakukan, demikian juga mengenai penyelenggaraan maulid dan manaqib auliya’.

Dan termasuk diantara akidahnya adalah : Alloh mungkin juga melakukan bohong. Al-Janjoehi mengatakan : ” Berbohong adalah memberikan kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan. Hal itu juga bisa dilakukan Oleh Alloh sang pencipta. Namun Alloh tidak melakukannya “. (hal : 84).

Al-Janjoehi mengemukakan beberapa argumentasi, antara lain : Alloh telah mengancam fir’aun untuk dimasukkan kedalam neraka, karena kekufurannya. Padahal seandainya Alloh mau,bisa juga fir’aun dikehendaki beriman dan kemudian dimasukkan kedalam surga. Ini sama halnya Alloh telah melakukan kebohongan.

Sekilas Argumentasi yang ditawarkan oleh al-janjoehi tersebut benar, namun itu sebenarny adalah bentuk kebodohan al-janjoehi yang tak terbantahkan. Mari kita kembali pada pengertian bohong itu sendiri. Menurut ulama sunni, berbohong adalah memberikan kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Dalam hal ini Alloh menjanjikan orang yang beriman untuk masuk surga dan mengancam orang yang kufur untuk masuk neraka. Sedanglkan fir’aun jelas-jelas sampai akhir hidupya tidak pernah beriman. Lantas apakah bisa dikatakan Bahwa Alloh telah melakukan kebohongan? Dan apakah seorang muslim akan mengingkari firman-firman-Nya? Bukankah Alloh itu maha benar dengan segala firman-Nya? Jika Allog berbohong, maka ucapan siapa lagi yang bisa dipercaya?

Iklan