Anda sudah mencermati dengan seksama petikan tulisan dari kitab pegangan mereka ” dustur al-amaal “, dimana mereka tidak mau menerima ketetapan hukum atau larangan kecuali keterangan langsung dari Nabi SAW. Meskipun ada pendapat lain dari imam mujtahid, ahli hadits, ahli tafsir dan pendapat-pendapat lainnya. Doktrin ini sama persis dengan doktrin yang dikembangkan oleh amir jama’ah islamiyyah abu a’la al-maududi. Sebagaimana dijelaskan pada doktrin dasar pergerakannya.

Dua golongan ini (al-jama’ah at-tablighiyyah dan al-jama’ah al-islamiyyah) sebenarnya setali tiga uang. Sama persis tanpa ada perbedaan berarti. Keduanya tidak mensyaratkan dalam ” persekutuan “, kecuali hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat saja. Dan mereka sama-sama tidak mau menerimapendapat apapun kecuali yang diperoleh dari Rosululloh.

Mengenai masalah kepemimpinan, dijelaskan dalam doktrin mereka sebagai berikut : ” Dalam sistem islam harus ada kepemimpinan, yaitu sebuah pertanggung jawaban yang memang dianggap penting. Barang siapa telah memilih seorang amir dalam ” jama’ah tablighiyyah ” sesuai dengan sistem yang berlaku, berarti hal itu merupakan mafhum dari pengertian ” ulil amri ” yang bisa diketahui dari keterngan syari’at yang disucikan. Mentaatinya hukumnya wajib bagi semua orang, sebagaimana dia mentaati Alloh dan Rasul ” (dustur hal : 6).

Kemudian mengenai ketetapan hukum yang diputuskan amir, dijelaskan sebagai berikut : ” Ketetapan hukum seorang amir, apabila masih dalam batas-batas syar’iyyah, maka wajib dilakukan tanpa boleh protes sedikitpun atau meminta argumentasi atau meminta keterangan dalilnya. Menolak ketetapan hukum dikarenakan meremehkan, atau karena tidak ridlo, termasuk dosa besar yang kelak akan mendapat adzab setimpal ‘ (dustur hal : 7).

Kemudian mengenai doktrin kewajiban-kewajiban seorang amir, dijelaskan sebagai berikut : ” Bagi seorang amir, didalam menetapkan hukum tertentu, wajib untuk bermusyawarah dengan para cerdik pandai dan anggota dewan syuro. Akan tetapi ketika terjadi perbedaan pendapat, maka dipersilahkan bagi amir untuk memberikan keputusan hukum sesuai hati nuraninya, meskipun hanya disetujui oleh satu orang saja dan bertolak belakang dengan pendapat mayoritas ” (dustur hal : 8).

Dari doktrin-doktrin diatas dapat disimpulkan :

A. Mereka tidak mau mengikuti pendapat macam apapun kecuali kecuali keterangan dari Nabi SAW, Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

B. Mereka wajib patuh sepenuhnya kepada amir jama’ah meskipun bertolak belakang dengan pendapat para cerdik pandai dan anggota majlis syuro.

C. Yang dimaksud dengan para cerdik pandai dan anggota majlis syuro adalah terdiri dari orang-orang yang mau mengikrarkan dua kalimah syahadat tanpa memandang dari golongan manapun.

Sebagai perbandingan, coba amati penafsiran para ulama mengenai ulil amri seperti dibawah ini :

A. Al-allamah abu su’ud mengatakan : pengertian ulil amri adalah para pemimpin yang membawa misi kebenaran dan keadilan, seperti al-khulafa’ ar-rosyidin dan para pemimpin yang mengikuti jejaknya “.

B. Al-karkhi mengatakan : pengertian ulil amri adalah para pemimpin pada zaman Rosululloh Dan masa setelahnya, termasuk para hakim agama dan pemimpin pasukan perang. Sedangkan menurut satu pendapat, ulil amri adalah para uluma asy-syar’i (baca Al-futuhaat Al-ilahiyyah).

Nah, Kalau memang otak kita masih waras, tentu otak kita bisa mencerna, Coba sekarang kita renungkan !! Apakah amir yang di pilih oleh jama’ah tablighiyyah ini masuk dalam kriteria diatas? Sehingga mereka wajib mentaatinya? Dan jika melanggar ketetapan hukumnya, termasuk dosa besar dan mendapat adzab setimpal disisi Alloh? Sedangkan anggota gerakan ini terdiri dari golongan yang bermacam-macam, asalkan sudah mengucapkan dua kalimah syahadat. Padahal mungkin saja pemimpin mereka bukan dari golongan ahlus sunnah wal jama’ah.

Gerakan ini tidak pernah mau ambil pusing tentang siapa saja yang menjadi anggotanya, apakah termasuk ahlus sunnah ataukah ahli bid’ah. Padahal Rosululloh telah bersabda : ” Sesungguhnya kaum bani israil akan terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan “. Ditanyakan kepada beliau : ” siapa mereka itu “? ” Mereka itu orang-orang yang senantiasa berpegang pada sunnah-ku dan ajaran para sahabat ” (HR.Turmudzi dari Umar).

Kita kaum muslimin punya tanggung jawab dan kewajiban untuk meneliti mana sebenarnya firqoh yang benar itu? Dan apa pula akidah yang dipegang, sehingga mereka bisa selamat? Dan sudah barang tentu kita harus menjauhi firqoh-firqoh yang bertolak belakang dengan firqoh diatas agar kita juga bisa selamat dari api neraka. Seorang wali ghouts, Syeikh Abdul Qodir Al-Jilani memberikan penjelasan tentang siapakah ahlus sunnah wal jama’ah yang dimaksudkan dalam hadits Nabi itu. Beliau mengatakan : Pengertian As-sunnah adalah apa saja yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW. Sedangkan Al-Jama’ah adalah apa yang telah disepakati oleh para sahabat mengenai al-khulafa’ ar-rosyidin.

Setelah kita tahu siapa ahlus sunnah wal jama’ah itu maka jangan sampai ikut-ikutan membanggakan banyaknya pengikut ahli bid’ah, memberikan toleransi dalam masalah agama dan jangan sampai mengucapkan salam kepada mereka !!! Karena imam ahmad bin hanbal mengatakan ” barang siapa mengucapkan salm kepada ahli bid’ah berarti dia mencintainya “. Nabipun bersabda ” Tebarkan salam diantara kalian, maka kalian akan saling mencintai ” (Al-ghunyah li tholabil haq hal : 90 juz 1). Keterangan syeikh abdul Qodir al-jilani diatas juga dikutip oleh syeik ibnu hajar al-haitami dalam kitab ash-showaiq al-muhriqoh hal : 149.

Semenjak kurun awal, orang yang menentang golongan ahlus sunnah wal jama’ah disebut ahli bid’ah. Ibnu hajar mengatakan : ahli bid’ah adalah penentang ajaran yang telah disepakati oleh golongan ahlus sunnah wal jama’ah. Pendukung aliran ini dari golongan ulama kholaf adalah Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi serta pengikut-pengikutnya (baca Hasyiyatul Kurdi ‘ala ba fadlol).

Kemudian dalam kitab fatawi al-haditsiah, ibnu hajar mengatakan : para ahli bid’ah adalah penentang ahlus sunnah. Sedangkan ahlus sunnah adalah para pengikut abul hasan al-asy’ari dan abu manshur al-maturidi. Termasuk pelaku bid’ah adalah orang yang melakukan pembaharuan yang tidak dianggap baik oleh syar’i (halaman 205).

Al-Qulyubi dalam Hasyiyahnya mengomentari pendapat kanzu ar-rhoghibin, sebagai berikut : ” orang yang bukan termasuk sunni adalah para penentang faham dua imam besar, yaitu abul hasan al-asy’ari dan abu manshur al-maturidi. Karena beliau berdua memegang teguh ajaran Nabi SAW Dan para sahabat ” (hal : 322 juz IV).

Dengan keterangan-keterangan diatas, maka dapat disimpulkan : bahwa umat islam akan pecah menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu golongan saja. Oleh karena itu kaum muslimin harus meneliti dengan seksama siapa golongan yang selamat itu? Mereka itu pada periode akhir adalah para pengikut faham abul hasan al-asy’ari dan abu manshur al-maturidi.

Bagaimana mungkin pada zaman akhir ini orang menganggap cukup hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat saja, untuk mendirikan golongan baru, dengan tanpa berpegang pada akidah ahlus sunnah wal jama’ah? Gerakan yang menamakan dirinya dengan nama Al-Jama’ah At-Tablighiyyah ini dalam doktrin ajarannya tidak mensyaratkan persyaratan lain, kecuali hanya mengucapkan dua kalimah syahadat.

Gerakan ini tidak memperdulikan anggotanya berasal dari golongan manapun dan mereka tidak mau menerima apapun selain yang diperoleh dari Rosululloh, Meskipun keterangan tersebut berasal dari para sahabat atau imam mujtahid. BODOH pa tidak? Padahal Rosululloh telah bersabda : ” Para sahabat-ku ibarat bintang, dengan siapapun dari mereka, kalian mengikutinya, maka kalian akan memperoleh petunjuk “. Lantas – jika mereka masih tetap ngotot pada pendiriannya, mereka anggap siapakah para ulama? padahal ulama adalah pewaris para nabi, tapi mereka menolak mentah-mentah pendapat para ulama.

Dalam kenyataannya mereka melakukan dakwah keliling dengan siapa saja yang mau mengikutinya. Baik dari golongan al-qodiyani, al-nijriyah, al-wahhabiyah, al-maududiyah dan lain sebagainya. Padahal itu semua termasuk golongan-golongan yang keluar dari azaz kebenaran islam, meskipun mengklaim dirinya islam, namun mereka itu adalah ahli bid’ah yang sangat keterlaluan. Mereka selalu menggembar-gemborkan gerakannya kepada orang-orang awam yang tidak tahu menahu perihal gerakan mereka. Masyarakatpun tertipu. Dikiranya mereka itu juga ahlus sunnah karena akidah yang sebenarnya, dan faham yang menyimpang itu tidak pernah diperlihatkannya. Apakah itu bukan penipuan dan penyesatan terhadap umat dan – tanpa mereka sadari – membawa mereka ke neraka?.

Apabila anda berkata : bukankah setelah masuk gerakan ini, masih bisa melakukan perbaikan terhadap akidah mereka? Maka kami katakan : Bahwa hal itu jauh sekali dari kenyataan (kecil kemungkinan untuk berhasil). Karena mereka melarang anggotanya untuk membahas akidah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pribadi masing-masing.

Coba cermati doktrin yang tercantum dalam dustur al-amaal halaman : 16 sebagai berikut : ” Jangan sampai membicarakan masalah khilafiyyah dan furu’iyyah. Sampaikan saja pokok-pokok tauhid dan rukun-rukun islam “. Doktrin ini juga disebutkan dalam kitab Miftah At-Tabligh halaman : 218.

Kemudian Muhammad Ilyas juga mengatakan : ” Dasar gerakan kita adalah meningkatkan keimanan dan keyakinan dalam beragama. Oleh karena itu tidak usah mengungkit-ungkit masalah akidah ” (malfudhaat hal : 116). ” Pada suatu saat kalian menyinggung masalah bid’ah. Lain kali kata-kata itu jangan kalian sampaikan karena bisa memancing fitnah ditengah-tengah masyarakat ” (makaatib hal : 142).

Semakin jelas sudah mengenai idenditas gerakan ini. Mereka itu tidak mempunyai akidah tertentu yang berkait dengan ahlus sunnah wal jama’ah. Semua golongan yang disebutkan oleh Rosululloh berjumlah 73, dapat diterima dalam gerakan ini dan ditampung menjadi anggotanya. Atau bahkan aliran-aliran faham yang jelas-jelas menyimpang dari ajaran islampun tidak dipermasalahkan.

Pada akhirnya mereka bertekad untuk tidak memperbincangkan masalah akidah. Mereka memproklamirkan diri sebagai pengikut jejak para Nabi. Lucunya, mereka tak pernah mau mencari kebenaran, karena hal itu akan memancing fitnah menurut mereka. Siapapun boleh bergabung bersama mereka, berkeliling keluar masuk kampung dengan membawa akidah yang sesat. Harus menghindar dari kata bid’ah dalam setiap dakwahnya. Karena merasa khawatir akan terjadinya keresahan ditengah-tengah masyarakat. Dan lebih konyol lagi, mereka menyatakan telah mengibarkan panji-panji ahlus sunnah wal jama’ah. Dengan demikian, bukankah sudah tidak diragukan lagi tentang kesesatan mereka ?!!

Perlu sekali dimengerti, bahwa para imam kita mekarang para pengikut ajaran ahlus sunnah wal jama’ah untuk bergaul bebas, bekerja sama dan saling utang piutang dengan para ahli bid’ah. Qutb Al-Aqthab Syeikh abdul qodir al-jilani mengatakan : ” Seorang muslim harus berani menentang dan melawan kesesatan faham-faham ahli bid’ah, dengan mengharapkan balasan dan pahala yang besar “.

Diriwayatkan dari Nabi SAW : ” Barang siapa melihat pelaku bid’ah dengan penuh kebencian, maka Alloh akan memenuhi hatinya dengan iman dan perasaan aman. Barang siapa menghardik pelaku bid’ah dengan penuh kebencian, kelak dihari kiamat dia akan aman dari siksa neraka. Dan barang siapa menghina pelaku bid’ah, maka derajatnya disurga kelak akan dilipat gandakan seratus kali. Dan barabg siapa ketika bertemu pelaku bid’ah menampakkan wajah yang ceria, maka sungguh dia telah melecehkan ajaran Alloh yang diturunkan kepada Muhammad “.

Diriwayatkan dari Al-Mughiroh, dari ibnu Abbas, dia berkata : Rosululloh bersabda : ” Alloh tidak berkenan menerima amalnya pelaku bid’ah sampai dia meninggalkan perbuatan bid’ahnya “.

Ada ungkapan menarik dari seorang sufi besar, Fudhail bin ‘Iyadl Rodliyallahu ‘anhu : ” Barang siapa mencintai pelaku bid’ah, maka Alloh akan menghapus amalnya dan menghilangkan cahaya iman dari hatinya. Dan ketika Alloh mengetahui bahwa dia membenci pelaku bid’ah, aku (fudhail bin ‘iyadl) berharap semoga Alloh mengampuni dosa-dosanya. Dan ketika kamu menjumpai pelaku bid’ah ditengah jalan, maka ambillah jalan lain ” (Al-ghunyah hal : 90 juz 1).

Al-Jama’ah At-Tablighiyyah ini memang bermanis bibir. Mereka menawarkan gerakannya pada kelompok ahlus sunnah wal jama’ah dan kelompok-kelompok lainnya. Bukankah ini namanya mengumpulkan dua kutub yang saling berlawanan???