Abul Hasan Ali An-nadawi mengutip pernyataan daripendiri gerakan ini. Lengkapnya sebagai berikut ” Ketika Aku bermukim di madinah pada athun 1345 Hijriyyah, Alloh mengabulkan Maksud ku dan memberikan kabar gembira pada ku (lewat mimpi) bahwa aku akan membentuk gerakan ini bersama kalian ” (Aw rOnke Dini Da’autu : 77), pada halaman berikutnya Ali An-Nadawi mengatakan ” Setelah kembali dari perjalanan, beliau membentuk Add Awroh At-tablighiyyah ini ” (hal 8). Dengan dua ungkapan ini, berarti dia mendirikan gerakan ini berdasarkan wangsit yang dia peroleh dari mimpi yang dia katakan sebagai kabar gembira.

Baiklah untuk memperkuat keterangan diatas,kami kutipkan tulisan muhammad mandur nu’mani yang menjadi sejawat pendiri gerakan ini ” mimpi adalah dari 40 jenis kenabian. Sebagian manusia bisa mencapai suatu maqom, dengan melalui mimpi dan maqom itu tidak bisa di capai dengan riyadloh maupun mujahadah macam apapun. Ketahuilah, sesungguhnya Ilmu yang diberi lewat mimpi adalah bagian dari kenabian. Bagaimana tingkatan spiritual itu tidak bisa tercapai dengan ilmu? Sedangkan kalian tahu bahwa dengan ilmu akan tercapai makrifat, sedangkan makrifat bisa menghantarkan seseorang dekat dengan-Nya. Oleh karena itu Alloh berfirman ‘ Katakan muhammad, wahai tuhanku berikan aku tambahan ilmu “, dalam keadaan tertentu Alloh memberikan ilmu-ilmu-Nya kepadaku (lewat mimpi). Maka dari itu berusahalah agar Amir kalian ini punya tambahan waktu tidur. Akupun ketika kesulitan tidur, berkonsultasi dengan dokter dan para ahli hikmah, setelah itu aku gunakan minyak zaitun untuk meminyaki kulit kepala ku sesuai dengan petunjuk dokter. Dengan demikian, bertambahlah jam tidur ku. Metode dakwah jama’ah tablighiyyah ini pun aku dapatkan lewat mimpi,begitu juga mengenai penafsiran ayat ” kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnas, ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhawna ‘anil munkar wa tu’minuuna billah ” juga aku dapatkan lewat mimpi. setelah itu aku menampakkan diri untuk dakwah kepada masyarakat luas seperti halnya para nabi. Dan pada firman Alloh yang berbunyi ” ukhrijat “, memberikan isyarat bahwa dakwah ini tidak akan bisa sempurna apabila dilakukan dengan cara menetap atau bermukim saja di suatu tempat atau daerah, akan tetapi seorang muballigh harus keluar masuk dari daerah satu ke daerah lainnya, atau bahkan dari pintu ke pintu ” (baca Malfudhaat muhammad ilyas hal : 50)

Coba saja renungkan dosa-dosa muhammad ilyas ini. Dia telah berani menafsirkan ayat Al-Qur’an lewat sebuah mimpi, Dia telah memberikan pengakuan dan bahkan menegaskan ilmu-ilmunya di dapatkan dari mimpi dan menurutnya hal itu tidak bisa dicapai melalui riyadloh dan mujahadah.

Muhammad ilyas telah berani pula menafsiri pengertian ” ukhrijat ” tidak seperti yang di tafsirkan oleh para ulama ahli tafsir dan juga berwasiat kepada para pengikutnya untuk berusaha menambah jam tidurnya. Sungguh pikiran yang picik dan pernyataan yang mengherankan.

Penafsiran muhammad ilyas tersebut jelas-jelas merupakan penafsiran dengan menggunakan akal pikirannya sendiri. Bukankah rosululloh sendiri telah bersabda ” Barang siapa berani menafsiri Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri maka hendaknya dia mengambil bagian tempatnya di neraka kelak ” (HR.Turmudzi).

Lihat saja penafsirannya yang sembarangan ini. Dia menafsiri ” Ukhrijat ” dengan melalui mimpi, lagi pula penafsiran tersebut mengesankan betapa dangkal akal fikirannya. Seolah-olah dia tidak tahu mana arah kanan kiri. Dan tidak pula tahu mana perkara wajib,mana perkara sunnah. Perhatikan penafsirannya itu dengan seksama : bahwa amar ma’ruf tidak akan bisa sempurna kecuali di lakukan dari pintu ke pintu. Padahalislam sudah sedemikian menggema di seluruh penjuru dunia. Alangkah melelahkan metode dakwah seperti ini.

Seorang mufassir kenamaan, Al-Allamah ibnu jarir Ath-Thobari, seperti diriwayatkan oleh As-Suyuthi, di dalam kitab Ad-Dur al-mantsur, mengatakan ” kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnas – liman baina dzohrihi – kalian adalah sebaik-baiknya umat yang di lahirkan bagi manusia – yaitu bagi orang-orang pada masa kalian – sebagaimana penafsiran firman Alloh ” Wa laqod ikhtarnaahum ‘ala ‘ilmin ‘alal ‘alamin ” (dan sungguh telah kami pilih mereka dengan pengetahuan (kami), atas bangsa-bangsa, maksudnya adalah bangsa-bangsa yang ada pada masa mereka (ad-dur al-mantsur hal : 64).

Menurut Muhammad ilyas yang dimaksud An-nas bukanlah kalangan bangsa arab, akan tetapi selain bangsa arab, Dia mengatakan ” Hal itu di tunjukkan olrh Alloh dalam Firman-Nya – Lasta ‘alaihim bimushoytirin, illaman tawalla wa kafar – (kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka) dan juga firman Alloh – wa maa anta ‘alaihim bi wakiil – (dan kamu bukan sekali-kali pemelihara bagi mereka). Alloh yang menghendakimereka mendapatkan hidayah, maka dari itu jangan engkau memikirkan dan memprihatinkan keadaan mereka,dangan demikian yang di khitobi dangan ” khoiro ummatin ” adalah orang arab. Sedangkan yang di maksud dengan An-naas adalah selain arab. Karena Firman Alloh yang berikutnya yang berbunyi ” wa law aamana ahlu al-kitab lakaana khoiron lahum ” (sekiranya ahlulkitab itu beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka) merupakan qorinah dalm penafsiran tersebut.

Coba sekali lagi renungkan dengan sempurna !! Apakah ada ulama ahli tafsir terdahulu yang berpendapat seperti in? Maka jelaslah bahwa gerakan yang dilakukan oleh muhammad ilyas ini sama sekali tidak berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, akan tetapi berdasarkan wangsit yang diperoleh dalam tidurnya dan juga tidak sesuai dengan jalan yang ditempuh oleh para ulama salaf ash-sholihin.

Lebih mengherankan lagi, Muhammad ilyas memberikan petunjuk kepada sesama manusia dengan berdasarkan mimpi. Bukankah ini merupakan perbuatan bid’ah yang tidak pernah ditemukan dalam sunnah Rosululloh SAW. Nabipun bersabda : ” Barang siapa memperbarui urusan agama kami ini dari apa saja yang bukan termasuk didalamnya, maka hal itu akan ditolak ‘ (HR. Bukhori dan Muslim).

Dalam kitab Mirqotul Mafaatih ‘alaa misykat al-mashoobih halaman 420 juz 1, ibnu hajar al -asqolani mengatakan : ” mimpi yang dialami oleh selain para nabi, tidak bisa dijadikan ketetapan hukum syar’i “. Karena hukum syar’i hanya bisa diperoleh dengan wahyu dan ijtihad.

Bagaimana mungkin Muhammad Ilyas menafsiri ayat al-Qur’an melalui mimpi, kemudian menyebarluaskannya ke segenap penjuru dunia dan dia memproklamirkan diri sebagai seorang pemimpin? Bukankah ini semua merupakan pemalsuan terhadap hukum-hukum syar’i? Prang yang punya sedikit pengetahuan saja pasti sudah mafhum dengan tipu daya seperti ini.

Al-Qur’anpun telah memberikan penjelasan ; ” Dan kami turunkan kepadamu al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka ” (an-nahl : 44). ” Sesungguhnya kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya ” (al-Hijr : 9).

Pemimpin gerakan ini telah mengatakan dengan terus terang bahwa penafsirannya dan ilmu-ilmunya yang lain diberikan Alloh lewat mimpi. Pengakuan ini tak lebih dari pengakuan saudara laki-lakinya, yaitu abu al-a’la al-maududi dalam kitab at-tanqihaat : ” bahwa dalam memahami al-Qur’an, tidak butuh pada tafsir-tafsir yang kita kenal. Namun cukup dengan menguasai bahasa arab pada tingkatan pertama saja “.

Dua saudara kandung ini pemikirannya sama persis dengan tradisi pemikiran yang berkembang dikalangan ahli bid’ah. Mereka menafsiri al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri dan mengklaim bahwa gerakannya berpegang pada al-qur’an dan as-sunnah. Ini semua jelas merupakan manipulasi, dengan tanpa ada sedikitpun keraguan.