Pada keterangan yang lalu, telah kita ketahui bersama tentang bagaimana al-janjoehi, guru besar muhammad ilyas ini memuji-muji pada muhammad bin abdul wahhab dan para pendukungnya. Akan tetapi ketika mereka tahu bahwa para pengikut sunni, tidak menyukai orang tersebut karena telah terbukti memporak porandakan tatanan masyarakat arab dan berita itu tersebar luas disegenap belahan dunia, maka merekapun kemudian bersilat lidah dan mengatakan bahwa al-janjoehi sepertinya belum begitu mengenal sosok muhammad bin Abdul wahhab, sehinnga dia menyanjung-nyanjungnya.

Kemudian tidak berapa lama kemudian, sahabat karibnya, Husein Ahmad Al-Madani dan As-Saharnapoeri menjelaskan sejelas-jelasnya mengenai perihal muhammad bin abdul wahhab dan sepak terjang pengikut-pengikutnya. Karena mereka punya meksud tersembunyi, yaitu agar masyarakat muslim dari golongan sunni tertarik untuk bergabung dan bergerak bersama mereka, dengan mengatasnamakan sebagai pengikut ajaran agama yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.

Baiklah, agar kedok mereka itu kembali terbuka, akan kami kutipkan pernyataan-pernyataan muhammad mandhur an-nu’mani penulis kitab Malfudhaat Ilyas yang dikeluarkan oleh surat kabar Ad-Da’i, diterbitkan oleh Darul Ulum Dewanda, dibawah pengawasan Toyyib (salah satu murid kepercayaan husein ahmad al-madani), tercatat tahun terbitan 1398 H.

Kepala Redaksi harian itu dalam tajuknya mengatakan sebagai berikut : ” Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad Bin Abdul Wahhab termasuk tokoh-tokoh Islam yang berpengaruh, penyeru kebaikan, pejuang islam yang gigih dan penentang akidah-akidah khurafaat dan taqlid-taqlid yang mengandung syirik “.

Kemudian pada tajuk berikutnya, An-nu’mani mengatakan dengan jelas : ” Syeikh rasyid Ahmad Kan Koehi, pada pertama kali fatwanya memang belum tahu betul tentang sosok muhammad bin abdul wahhab, kemudian pada fatwa berikutnya beliau baru mengenalnya dan menyatakan bahwa : akidahnya itu mengandung kebenaran dan bersih dari kesesatan “. (halaman : 3, terbitan kedelapan tahun kedua).

Pada terbitan kesembilan, dengan tahun yang sama, An-Nu’mani menulis : ” Syeikh ibnu abdul wahhab ini, telah berjasa membongkar kuburan-kuburan, kubah-kubah dan tempat-tempat keramat yang dianggap sebagai tempat-tempat melakukan amal-amal syirik dari masa ke masa “.

Pada halaman lain, An-Nu’mani juga berkomentar : ” Ayahnya yang bernama Abdul Wahhab itu sangat merendahkan kealiman putranya (muhammad) dan kepiawaiannya dalam penguasaan fiqh madzhab hanbali. Hal itu bisa dimaklumi karena sang ayah ini seorang sufi yang mengasingkan diri sehingga tidak tahu perkembangan anaknya. Lagi pula ketika pergerakan wahabi itu dimulai, muhammad bin abdul wahhab pun menyingkir dari Uyainah menuju kota huraimilah “.

Opini yang dipropagandakan An-Nu’mani ini sangat lemah akurasinya. Sebab sang ayah itu pergi mengasingkan diri, karena tidak tahan melihat pemikiran dan sepak terjang anaknya, yang menyebarkan kesesatan ditengah-tengah umat.

Pada kesempatan lain, An-Nu’mani mencoba memberikan pembelaan terhadap Ahmad As-Saharnapoeri dan Husein Ahmad Al-Madani, yang telah mengeluarkan fatwa sebagai berikut : ” Menurut kami, gerakan kaum wahabi itu, sebagaimana dikomentarkan penulis durr al-mukhtar adalah sama hukumnya dengan bughaat “.

Menurut An-Nu’mani, kedua ulama ini mengeluarkan fatwanya ketika belum mengenal betul siapa muhammad bin abdul wahhab dan seluk beluk gerakannya. Maka wajar saja mereka menghukumi gerakan tersebut identik dengan pemberontakan terhadap pemerintahan yang sah.

An-Nu’mani dengan sekuat tenaga berusaha untuk memberikan kesan manis, seakan tidak pernah terjadi pertentangan antara muhammad bin abdul wahhab dan ad-dahlawi. Berikut ini kesimpulan dari beberapa komentarnya : ” Propaganda-propaganda menyesatkan berita-berita yang disebar luaskan oleh musuh-musuh syeikh muhammad bin abdul wahhab an-najdi dan lawan-lawan politiknya, yang terus-menerus menyiarkan kebohongan-kebohongan setan membawa pengaruh juga pada gerakan Al-Awsat Ad-Diniyyah yang dipelopori oleh syeikh muhammad ismail ad-dahlawi. Dimana sebenarnya beliau juga mempercayai sepenuhnya akidah-akidah dan dasar-dasar pemikiran yang dikembangkan oleh muhammad bin abdul wahhab dan para pendukungnya, yang jelas-jelas memerangi praktek-praktek bid’ah dan menentang berbagai bentuk taqlid yang mengarah pada syirik. Mereka itu sebenarnya setuju dengan dasar-dasar pemikiran dan misi yang diemban oleh muhammad bin abdul wahhab.

Kemudian An-Nu’mani jiga mengatakan sesungguhnya apa yang ditulias oleh syeikh kholil ahmad as-saharnapoeri tujuh puluh lima (75) tahun yang lalu, dimana dia menjawab pertanyaan yang dilontarkan sebagian ulama madinah (ditulis dalam kitab yang berjudul At-Tashdiqoot), itu semua karena dia terpengaruh oleh propaganda-propaganda dan berita-berita menyesatkan yang sengaja dihembuskan oleh lawan-lawan politik muhammad bin abdul wahhab untuk mencapai tujuan-tujuan yang rendah dan target-target politik tertentu. Begitu juga berkenaan dengan tulisan husein ahmad al-madani (dalam kitab berjudul asy-syihab ats-tsaqib hal : 5 terbitan pertama tahun ketiga).

Akhirnya sampailah kita pada satu kesimpulan bahwa : Al-kankoehi, as-saharnapoeri, husein ahmad al-madani, at-tahaanawi dan muhammad ismail ad-dahlawi adalh tiada bedanya sejengkal pun dengan pelopor gerakan wahabi, muhammad bin abdul wahhab. Mereka itu adalah pendukung-pendukungnya. Meskipun terkadang mereka memperlihatkan kecaman, namun jika kita teliti dengan seksama maka sudah tidak ragu lagi siapa mereka sebenarnya.

Sekali lagi jangan percaya pada propaganda yang mereka sebarkan, mengenai lawan-lawan kaum wahabi yang di cap mempunyai kepentingan-kepentingan rendah dan target-target politik tertentu. Karena diantara lawan-lawan muhammad bin abdul wahhab itu adalah orang tuanya sendiri, saudara laki-lakinya yang bernama syeikh sulaiman bin abdul wahhab dan gurunya sendiri yaitu syeikh sulaiman al-kurdi.

Untuk melengkapi pengetahuan kita mengenai kesesatan muhammad bin andul wahhab, baiklah akan kami kutipkan sebuah surat yang ditulis oleh syeikh sulaiman al-kurdi, guru dari muhammad bin abdul wahhab sendiri berikut ini : ” Jalan mana yang engkau tempuh sehingga berani menghukumi kufur pada as-sawad al-a’dzom (mayoritas) dari kaum muslimin. Sedangkan engkau sendiri telah memisahkan diri dari as-sawad al-a’dzom. Sesungguhnya menghukumi kufur pada orang yang memisahkan diri dari as-sawad al-a’dzom itu lebih tepat. Karena dia telah jelas-jelas menempuh jalannya orang-orang yang tidak beriman “.

Kemudian saudara laki-lakinya, sulaiman bin abdul wahhab menulis dalam kitab Ash-Showaaiq Al-Ilahiyyah sebagai berikut : ” Para ulama belum pernah mengatakan : barang siapa bernadzar untuk selain Alloh maka dihukumi murtad, seperti yang sering kalian ucapkan. Jika engaku merasa punya sedikit ilmu, maka sampaikan ilmu itu. Bukankah menyembunyikan ilmu itu tidak diperbolehkan? Namun kalian telah mengambil pendapat seperti ini hanya berdasarkan pemahaman kalian sendiri. Kalian menolak ijma’. Mengingkari sesama umat muhammad. Bukankah kalian mengatakan : ” Barang siapa melakukan perbuatan-perbuatan tersebut tergolong kufur. Dan barang siapa tidak menganggapnya kafir juga kalian hukumi kufur? “. Semua orang sudah mafhum, bahwa seluruh yang engkau tuduhkan itu telah memenuhi permukaan bumi. Lantas apakah kalian akan menghukumi kufur pada kaum muslimin yang menghuni bumi lebih dari tujuh ratus tahun yang lalu? Para ulama belum pernah ada yang menghukumi kufur terhadap mereka, dan juga tidak pernah sekalipun menghukumi murtad. Namun kalian telah berani memperlakukan mereka sebagaimana orang-orang kafir dan orang-orang murtad dan daerah tempat tinggalnya pun kalian hukumi sebagai kawasan musuh. Sampai-sampai dua tanah Haram yang telah diberitakan oleh Rasululloh dalam hadits-hadits shohih dan disana tidak akan pernah terdapat penyembahan berhala-berhala dan dajjal pun tidak akan bisa menginjakkan kakinya, pada akhir zaman kelak, kalian tetapkan pula sebagai kawasan yang harus diperangi. Menurut kalian, seluruh negeri telah menjadi musuh yang harus diperangi. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un (halaman : 7).

Mana lagi bukti-bukti yang harus dipaparkan disini. Nampaknya sudah lebih dari cukup. Mereka itu adalah kaum yang sesat dan menyesatkan, ahli bid’ah dan telah lepas dari ajaran agama yang lemah lembut ini. Lebih lengkapnya buka kembali lembaran-lembaran kelabu sejarah masa lalu. Disaat fitnah dan pertumpahan darah tak terelakkan lagi dibelahan dunia arab sana. (khulasoh al-kalaam fi bayani umaro’ al-haram : sayyid ahmad zaini dahlan, wafat tahun 1304 H).

Teliti sekali lagi dan kitapun akan yakin bahwa kesesatan-kesesatan mereka, yang telah tersiar dimana-mana itu bukanlah suatu kebohongan. Tidak pula untuk kepentingan-kepentingan politik. Apalagi hanya sekedar untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi yang rendah. Dan semua yang telah disebutkan benar-benar akan mempermalukan pendiri Al-Jama’ah At-Tablighiyyah dan para pendukung-pendukungnya.

Seorang penyair mengatakan :
” Ambil dari apa yang kamu lihat ”
” Dan tinggalkan apa yang kamu dengar ”
” Terangnya sinar matahari itu ”
” Cukup sudah dan jangan pedulikan lagi bintang zuhal “