Islam, iman dan ihsan adalah trilogi ad-din yang membentuk tiga dimensi keagamaan meliputi syari’at sebagai realitas hukum, thoriqoh sebagai jembatan menuju haqiqoh yang merupakan kebenaran esensial.

Ketiganya adalah sisi tak terpisahkan dari keutuhan risalah yang dibawa oleh Rosululloh yang menghadirkan kesatuan aspek eksoterisme dan esoterisme. Islam mengandung kedua aspek tersebut sekaligus. Wilayah eksoterisme meliputi persepsi moral dan hukum formal-institusional, sedangkan esoterisme meliputi hikmah transendental dan kesatuan mistis yang keduanya adalah syari’at atau hukum agama.

Meskipun dikotomis antara eksoterisme dengan esoterisme telah diungkapkan oleh al-qur’an sendiri melalui ketokohan nabi musa dan hidlir, dimana nabi musa dikisahkan sebagai tokoh eksoterisme yang tidak bisa memahami makna dibalik sikap dan perilaku hidlir yang digambarkan sebagai tokoh yang memiliki hikmah esoterisme, namun kedua aspek ini bersatu dalam risalah nubuwwah (kenabian) Rosululloh. Sebagai bukti, banyak hadist-hadist yang harus dihindari dari penafsiran eksoterisme, seperti sabda Rosululloh; ” Barang siapa melihat ku, niscaya melihat tuhan (kebenaran) ”.

Oleh karena itu, sejak lahirnya, islam mengajarkan keseimbangan antara dua aspek ini, karena penerapan esoterisme dengan meminimalkan atau bahkan mengabaikan eksoterisme merupakan tindakan membahayakan, sebab pada ujungnya, sikap demikian praktis akan mendorong pada pemutlakan sesuatu yang relatif.

Eksoterisme sebuah kebenaran tanpa disertai esoterisme merupakan kemunafikan (hipokritis), begitu juga esoterisme tanpa di dukung eksoterisme adalah klenik. Jadi, dalam syari’at islam, semata-mata formalitas adalah tiada guna, sedangkan spiritualitas belaka adalah sia-sia. Belakangan, penghayatan konkret dari aspek esoterisme islam ini dikenal dengan sufisme, yaitu suatu doktrin yang berorientasi pada nilai kebijakan dan akhlak yang merupakan ” pengejawentahan ” dari dimensi ihsan (estetika) yang merupakan puncak dari prestasi amaliyah syari’at.

Terlalu naif jika islam hanya dibatasi oleh persepsi-persepsi fiqhiyyah yang meruang dalam lingkaran kesholihan formal. Sebab, pada hakikatnya rumusan fiqh hanyalah formulasi sistematik berupa norma-etik untuk mengantar dan membimbing perilaku sesuai syar’i yang harus dilampaui ketika hendak mencapai realitas hakiki, sebagaimana kemestian mengupas kulit untuk mendapatkan kenyataan esensi. Akan tetapi hal ini bukan berarti fiqh boleh diabaikan, sebab kenyataan esensi bukan berada diluar kulit, melainkan didalamnya.

Universalitas dimensi keagamaan yang meliputi doktrin-doktrin eksoterisme dan esoterisme (Ushulain) harus senantiasa terpadu seimbang menjadi semangat keislaman umat, sehingga layak menyandang predikat ” muslim ideal ” yang selamat dari kubangan zindiq dan fasiq.
Namun dalam perkembangannya, sufisme menjadi jalan kontroversial yang menuai kritik.

Dewasa ini, banyak sekali kalangan yang menganggap bahwa tashawuf adalah ajaran sesat. Jelas ini anggapan yang bathil (keliru). Ironisnya, hujatan bahkan pengkafiran banyak sekali bermunculan dari umat islam sendiri, entah karena kedangkalan mereka dari faham esoteris atau justru karena memang kesalahan penempuh jalan ini sendiri yang cenderung abai dengan aspek eksoterisme dalam suluknya, sehingga lekat dengan nuansa dan corak kemusyrikan yang tidak bisa dimaafkan.

Lebih dari itu, dalam era modern ini, sufisme masih saja mendapat tantangan luar biasa, bahkan dalam tradisi akademik, sufisme dipandang sebagai penghambat kemajuan islam, dan pada klimaksnya giliran kasus-kasus tragedi runtuhnya intelektualisme islam. Tak ayal, tudingan pun mengarah telak pada tokoh-tokoh sufi seperti syekh hasan al-bashri, rabi’ah al-adawiyyah, hujjatul islam imam al-ghazali dan syeikh abdul Qodir al-jylani yang tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita semua.

Para penghujat itu akan mendebat : mana dalil dari al-qur’an atau hadist yang mengajarkan tentang tashawuf?. Ini jelas pertanyaan yang sangat lucu, karena pada hakikatnya seluruh kandungan al-qur’an adalah sumber atau dasar dari tashawuf itu sendiri. Hanya saja tashawuf tidak disebutkan secara gamblang atau jelas dan tidak berupa tekstual atau eksplisit. Jika kita belum faham, berarti harus belajar lebih dalam lagi. Jika belum menemukan, coba dikupas lagi sampai ke intisari seluruh ayat-ayat itu, maka disanalah kita akan menemukan tashawuf.

Tashawuf adalah ajaran islam dan tidak sesat, inilah keyakinan yang benar, terserah mereka mau menerima kebenaran ini atau tidak, yang penting kita sudah menyampaikan, karena Alloh memberikan hidayah-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.