Mengenai latar belakang berdirinya gerakan ini telah dijelaskan pada bagian depan. Namun untuk lebih meyakinkan, baiklah kami tegaskan sekali lagi bahwa tujuan muhammad ilyas mendirikan gerakan ini adalah untuk menciptakan sistem dakwah baru, yang tidak membedakan antara golongan ahlus sunnah dan golongan-golongan lainnya. Disana juga dilarang mempelajari dan membahas masalah furu’iyyah, apalagi masalah akidah. Mereka sudah menganggap cukup dengan mengajarkan keutamaan-keutamaan amal dari risalah-risalah tertentu. Bagi orang yang tidak mencermati dengan seksama, mungkin akan menganggap Al-Jama’ah At-Tablighiyyah ini termasuk pengamal toriqoh, aurod dan wadzifah-wadzifah yang diperoleh dari para masyayikh.

Kesalah pahaman diatas dipicu oleh dua rutinitas dari enam rutinitas yang mereka jalankan, yaitu : Berdzikir dan Mengajar. Namun sebelum kita berbicara lebih jauh mengenai rutinitas-rutinitas yang mereka anggap menyamai toriqoh itu, terlebih fahulu mari kita fahamiapa pengertian toriqoh dan apa fungsi toriqoh.

Seperti kita maklumi, pengertian toriqoh adalah : sebuah jalan untuk sampai ke hadlrotillah (makrifat kepada Alloh). As-sarokhsi mengatakan :
Para sufi itu sedang bepergian…
Tanpa henti-henti menuju hadlroh Ar-rohman…
Mereka butuh penunjuk jalan…
Seorang guru sejati yang mempunyai mata hati…
Pemberi nasehat yang pernah menempuh toriqoh…
Untuk kembali menyeru kaumnya…
Memberi kabar yang berguna…

Kemudian cermati dengan seksama pernyataan muhammad ilyas berikut ini : ” Fungsi toriqoh hanyalah untuk mendorong seseorang agar dengan senang hati mau menjalankan hukum-hukum Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh. Sedangkan fungsi dzikir, amalan-amalan adalah untuk mewujudkan hal-hal diatas. Namun sayang sekali kebanyakan orang menyangka toriqoh, dzikir dan amalan-amalan tertentu itu sebagai tujuan. Apalagi ada yang berupa perbuatan bid’ah “. (malfudhaat hal : 14).

Menurut mereka, Toriqoh itu hanya suatu methode untuk membiasakan diri dan mendorong seseorang agar mau menjalankan hukum-hukum Alloh dan menjauhi larangan-larangan Alloh. Dan ketika hal itu sudah bisa diwujudkan, maka toriqoh tidak lagi dibutuhkan dan sebagai gantinya mereka menyeru langsung kepada masyarakat dengan berkeliling keluar masuk kampung. Tentu saja hal ini bertentengan dengan ajaran para ulama yang benar-benar menguasai ilmu dzahir dan batin.

Selain itu, muhammad ilyas telah menciptakan toriqoh model baru. Kalau tidak percaya amati saja doktrinnya dalam dustur al-amaal halaman 20 tentang pembagian waktu : ” Setelah subuh membaca terjemah atau mengajar Al-Qur’an “.

Padahal kita tahu kegiatan-kegiatan yang dianjurkan ulama salaf bagi pengamal toriqoh tidak seperti itu. Berikut ini petunjuk Syeikh Zainuddin Ali Al-Malaibari dalam kitab Hidayatul Adzkiya’ :
Mengenai amalan setelah sholat subuh…
Adalah menyibukkan diri dengan wirid…
Tidak boleh berbicara, selalu menghadap Qiblat, muroqobah dan membaca kalimah tahlil…
Sesuai toriqoh yang diajarkan para guru…
Engkau akan melihat api dan cahaya…
Menyinari halaman hati dengan cahaya terang…
Tabiat-tabiat burukpun sirna…
Kemudian menjadi ahli bermusyahadah…
Itu adalah nikmat yang agung…
Semua itu dilakukan hingga matahari naik satu penggalah…

Assayyid Al-Bakri Ad-Dimyati dalam komentarnya mengatakan : ” Ketika engkau sudah selesai mengerjakan sholat subuh, kerjakan wiridan-wiridanmu berupa dzikir-dzikir, tasbih dan doa-doa seperti yang diterangkan dalam hadits hingga terbit matahari “. Rosululloh bersabda : ” Barang siapa mengerjakan sholat subuh dengan berjama’ah, kemudian duduk berdzikir hingga matahari terbit, kemudian sholat dua rakaat, maka deikian itu seperti pahalanya haji dan umroh yang sempurna “.

Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali mengatakan : ” Waktu ini (antara terbitnya fajar hingga terbitnya matahari) merupakan waktu mulia. Dan hal itu ditunjukkan dalam beberapa kali kesaksian Alloh dalam Al-Qur’an. Untuk itu duduklah dan jangan bicara hingga matahari terbit. Dan sebaiknya engkau membaca amalan-amalan berupa doa-doa, dzikir-dzikr, membaca Al-Qur’an dan tafakkur “. (kifayatul atqiya’ hal : 48).

Bukti-bukti diatas menyadarkan kita semua, bahw amereka telah menjadikan dzikir dan pengajian sebagai rutinitas, namun dzikir yang dimaksud tidak seperti ajaran-ajaran toriqoh.. Dan yang dimaksudkan dengan pengajianpun tidak seperti lazimnya pengajian. Sebab yang mereka kaji adalah kitab-kitab yang menerangkan keutamaan-keutamaan amal saja yang ditulis oleh amirnya. Disana tidak diterangkan tentang ilmu fiqh dan ilmu hal. Semua itu seperti yang kita saksikan sendiri dan dikabarakn para pengikutnya.

Dan tengoklah kembali, pada pembahasan awal mengenai riwayat pendiri gerakan ini. Dia mengaku pernah mendalami tashawuf dan toriqoh, kemudian menyatakan keluar dan tidak mau bergabung lagi dengan para pengamal toriqoh.

Suatu saat muhammad ilyas mengatakan : ” Guru toriqohku telah memberikan ijazah(perkenan) kepadaku untuk membimbing dan mengajar murid-murid toriqoh tentang amalan-amalan tashawuf dan berbagai macam riyadloh. Akhirnya, mereka aku bimbing dengan karunia dan nikmat Alloh, merekapun akhirnya merasakan ladzatnya berdzikir dalam waktu singkat. Aku sangat heran dengan keadaan mereka, yang bisa mencapai kemajuan spiritual dengan sangat pesat. Kemudian aku berfikir apa sebenarny faidah dari toriqoh yang mereka jalani? Paling-paling yang mereka peroleh adalah popularitas ditengah-tengah masyarakat, karena bisa melakukan hal-hal yang aneh, luar biasa, bisa selamat dari pemeriksaan perkara, bisa mempunyai anak setelah mandul, sukses dalam perniagaan, profesi dan lain sebagainya. Kemudian para sufi itu membuat azimat-azimat dan haekal, agar mereka dihormati orang banyak. Mereka bersusah payah menjalani amalan toriqoh dan riyadloh hanya untuk tujuan yang rendah. Setelah merenung dan berfikir panjang, aku tidak lagi tertarik pada dunia toriqoh dan aku putuskan untuk meninggalkannya “. (surat kabar harian gandharikah tanggal 24 juli 1976 : seperti sering di presentasikan jamal muhammad al-muhadlir dalm kuliah-kuliahnya).

Pernyataan Muhammad Ilyas ini, jelas-jelas merupakan pelecehan terhadap toriqoh, atau paling tidak menunjukkan ketidak pahaman tentang seluk beluk toriqoh. Coba pikir apakah benar riyadloh yang dijalani para sufi dan pelaku toriqoh itu hanya sekedar untuk menulis azimat dan haikal???

Singkat kata, muhammad ilyas ini menciptakan dan menyerukan gerakannya setelah keluar dari toriqoh. Dan lebih brutal lagi dia meyakini sebuah mimpi yang mungkin saja merupakan rekayasa setan, bualan atau hanya sekedar kembang tidur. Yang jelas, toriqoh yang dipegangnya tidak sama dengan toriqoh yang diajarkan para masyayikh.