Al-‘ariyah menurut bahasa artinya sama dengan pinjaman, sedangkan menurut istilah syara’ adalah aqad berupa pemberian manfaat suatu benda halal dari seseorang kepada orang lain tanpa ada imbalan dengan tidak mengurangi atau merusak benda itu dan dikembalikannya setelah diambil manfaatnya.

Allah SWT berfirman :
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah : 2)

Rasulullah SAW bersabda :
“Dan Allah mennolong hamba-Nya selam hamba itu mau menolong sudaranya.”
Dari Abu Umamah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda : “Pinjaman itu harus dikembalikan dan orang yang meminjam dialah yang berhutang, dan hutang itu wajib dibayar”. (HR. At-Turmudzi).

Hukum asal pinjam-meminjam adalah sunnah sebagaimana tolong-menolong yang lain. Hukum tersebut dapat berubah menjadi wajib apabila orang yang meminjam itu sangat memerlukannya. Hukum pinjam-meminjam juga bisa menjadi haram bila untuk mengerjakan kemaksiatan.

Rukun Pinjam-meminjam

1. Orang yang meminjamkan syaratnya :

a) Berhak berbuat kebaikan tanpa ada yang menghalangi. Orang yang dipaksa atau anak kecil tidak sah meminjamkan.
b) Barang yang dipinjamkan itu milik sendiri atau menjadi tanggung jawab orang yang meminjamkan.

2. Orang yang meminjam syaratnya :

a) Berhak menerima kebaikan. Oleh sebab itu orang gila atau anak kecil tidak sah meminjam karena keduanya tidak berhak menerima kebaikan.
b) Hanya mengambil manfaat dari barang yang dipinjam.

3. Barang yang dipinjam syaratnya :

a) Ada manfaatnya.
b) Barang itu kekal (tidak habis setelah diambil manfaatnya). Oleh sebab itu makanan yang setelah diambil manfaatnya menjadi habis atau berkurang zatnya tidak sah dipinjamkan.

4. Aqad, yaitu ijab qabul.

Pinjam-meinjam berakhir apabila barang yang dipinjam telah diambil manfaatnya dan harus segera dikembalikan kepada yang memilikinya. Pinjam-meminjam juga berakhir apabila salah satu dari kedua pihak meninggal dunia atau gila. Barang yang dipinjam dapat diminta kembali sewaktu-waktu, karena pinjam-meinjam bukan merupakan perjanjian yang tetap.

Jika terjadi perselisihan pendapat antara yang meminjamkan dan yang meminjam barang tentang barang itu sudah dikembalikan atau belum, maka yang dibenarkan adalah yang meminjam dikuatkan dengan sumpah. Hal ini didasarkan pada hukum asalnya, yaitu belum dikembalikan.

Kewajiban Peminjam

1. Mengembalikan batang itu kepada pemiliknya jika telah selesai.
Rasulullah SAW bersabda : “Pinjaman itu wajib dikembalikan dan yang meminjam sesuatu harus membayar”. (HR. Abu Dawud)

2. Mengganti apabila barang itu hilang atau rusak.
Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Shafwan bin Umayyah, bahwa Nabi SAW pada waktu perang Hunain meminjam beberapa buah baju perang kepada Shafwan. Ia bertanya kepada Rasulullah : “Apakah ini pengambilan paksa wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab : “Bukan, tetapi ini adalah pinjaman yang dijamin (akan diganti apabila rusak atau hilang)”. (HR. Abu Dawud)

3. Merawat barang pinjaman dengan baik.
Rasulullah SAW bersabda : “Kewajiban meminjam adalah merawat yang dipinjamnya, sehingga ia kembalikan barang itu”. (HR. Ahmad)