Para ulama madzhab syafi’i dan madzhab yang lain telah menegaskan bahwa ziarah ke makam Rosululloh hukumnya sunnah,baik dijadikan sebagai tujuan safar (bepergian) atau tidak. Cukup banyak dalil yang mendasari penegasan mereka ini.

Diantaranya adalah atsar dari sahabat bilal bin abi rabah ketika berada di daerah Syam bermimpi melihat Rosululloh bersabda kepadanya;” sudah lama kamu tidak mengunjungi ku wahai bilal !! ”. Ketika terbangun dari tidurnya,bilal segera bergegas menuju madinah. Ketika sampai di makam rosululloh,bilal menangis dan membolak-balikkan wajahnya di atas tanah makam rosululloh. (diriwayatkan oleh as-samhudi,wafa al-wafa juz 4 hal. 1045 dengan sanad yang jayyid. seperti di tegaskan oleh al-hafidz as-subki).

Ibnu umar meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda; ” barang siapa yang datang kepada ku untuk berziarah,tidak untuk tujuan lain kecuali ziarah (ke makam ku),maka sungguh memberi syafa’at kepadanya telah menjadi hak-ku ” (HR. At-thabarani).

Dalam hadis lain,beliau bersabda;” barang siapa berziarah ke makam ku,pasti akan mendapat syafa’at ku ”. (HR. Ad-daruquthni, dan adz-dzahabi berkomentar : hadis ini menjadi kuat dengan adanya jalur sanad yang berbeda-beda,lihat dalam: Manahil as-shofa fi takhrij ahadis as-syifa hal. 308).

Al-hafidz ad-dliya’ al-maqdisi dalam fadhoilul A’mal hal 108 menyebutkan beberapa hadis sebagai penguat dalil itu, diantaranya : Rosululloh bersabda ” barang siapa pergi haji dan kemudian ziarah ke makam ku setelah aku wafat,maka seakan-akan dia telah mengunjungi ku sewaktu aku masih hidup ”.

Alhakim meriwayatkan bahwa Rosululloh bersabda;” sungguh Isa bin maryam akan turun menjadi penguasa dan imam yang adil, dia akan menempuh perjalanan untuk pergi haji dan umroh atau dengan niat keduanya, dan sungguh dia akan mendatangi makam ku sehingga berucap salam kepada ku dan aku pasti akan menjawabnya ”. (HR. Alhakim dalam al-mustadrak,serta di shohihkan dan di setujui oleh adz-dzahabi).